Tangkal Cybercrime, E-Comerce Perkuat Lini IT

Maraknya tindak cybercrime membuat semua pelaku bisnis online, termasuk pemilik bisnis e-commerce melakukan berbagai langkah preventif. Besarnya perputaran uang di sektor tersebut berpotensi menjadi sasaran para penjahat cyber. Data 2016 menyebutkan jumlah pengakses internet diperkirakan mencapai 132,7 juta orang, dengan jumlah pembeli online melalui e-commerce mencapai 24,7 juta orang. Sementara, menurutnya, total nilai pasar e-commerce juga diprediksi mencapai USD 5,6 miliar dan rata-rata pembelian per orang mencapai USD 228 per tahun.

Ketua Bidang Divisi Pajak, Infrastruktur dan Cybersecurity Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) Bima Laga membeberkan bahwa bisnis e-commerce kerap mendapatkan gangguan dari oknum cybercrime. ”Yang pernah terjadi antara lain, phising, data leak, sampai hacking. Tapi kini tidak sedikit perusahaan yang mengalokasikan dana untuk pemeliharaan sistem, piranti lunak, dan jasa konsultasi,” ujar Bima.

Bima mengungkapkan bahwa langkah yang biasa dilakukan oleh pemilik-pemilik industri e-commerce adalah dengan melindungi system dan server dengan firewall yang kuat untuk mencegah serangan cyber, baik malware maupun peretasan system melalui IP address. Untuk internal, email misalnya, perusahaan memproteksi dengan antivirus yang otomatis mengecek setiap email yang masuk baik teks, link, juga attachment.

Baca Juga :  Dodik Diduga Terpengaruh Lingkungan Luar

Salah satu pelaku bisnis e-commerce, BLANJA.com, mengaku menerapkan IT security di setiap layer dari physical sampai ke application, menerapkan prosedur backup data serta mengujinya secara berkala. ”Karena di BLANJA.com ada transaksi financial, dan langkah itu untuk menjaga kepercayaan dan kenyamanan customer berbelanja online,” ujar Aulia E Marinto, CEO BLANJA.com yang juga menjabat Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA).
Sementara itu, pelaku bisnis e-commerce lain yakni Blibli mengaku telah melakukan tindakan preventif berupa penggunaaan berbagai tools security. ”Tools ini sendiri bukan hanya alat, tapi juga berbagai metode seperti antivirus, patch bug, pengecekan keamanan berkala (penetration testing). Team kami, khususnya di bagian teknologi dan infrastructure diwajibkan untuk mengikuti berita security, mengikuti panduan keamanan yang ada. Hal ini juga diberlakukan terhadap karyawan Blibli.com,” ujar Senior Marketing Communication Manager Blibli.com Lani Rahayu.

Lani menyebut bahwa masalah keamanan cyber di Indonesia kini terasa krusial karena pertumbuhan pengguna internet di Indonesia beberapa tahun ini, yang diikuti berkembangnya transaksi dagang dalam jaringan e-commerce dalam 5-6 tahun ini. ”Di era e-commerce saat ini, masalah keamanan data menjadi faktor sangat penting karena di dalam transaksi maka akan ada kebutuhan data rahasia seperti identitas pribadi dan nomor rekening perbankan,” tambah Lani. (agf/fad)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!