Tercorengnya Dunia Pendidikan

Oleh : Novitalia Ablinda Sari, S.T

Guru SMAN 1 Pemulutan Barat dan SMK Pembina 2 Palembang, Finalis Lomba Inovasi Pendidikan Karakter Kemdikbud Tahun 2017

Dunia pendidikan kembali tercoreng dengan kejadian pemukulan yang mengakibatkan meninggalnya seorang guru di sebuah sekolah negeri di Kabupaten Sampang, Madura. Seorang pak guru mata pelajaran seni rupa bernama Ahmad Budi Cahyono harus meregang nyawa meninggalkan istrinya yang sedang hamil 4 bulan. Ironisnya pelaku adalah anak didiknya sendiri dan akar masalah terkait kegiatan belajar mengajar.
Dikutip dari berbagai sumber, siswa MH sebagai pelaku pemukulan yang memang memiliki catatan buruk dari data guru BK tidak memperhatikan dan bahkan membuat ulah saat KBM berlangsung yakni materi melukis yang berakhir dengan pemukulan oleh MH. Pak Budi sempat pulang ke rumah namun karena mengeluh kepalanya sakit, lalu dilarikan ke rumah sakit, namun akhirnya koma dan dinyataan meninggal. Sungguh menyedihkan….
Kejadian diatas adalah yang paling terbaru tentang kejadian naas yang terjadi pada seorang guru. Sebelumnya ada juga guru yang dipenjarakan bahkan dipukul oleh wali murid karena ingin menerapkan disiplin saat KBM sedang berlangsung. Hal ini membuat pertanyaan besar ada apa dengan dunia pendidikan kita? Secepatnya kita harus berbenah dan mencari jalan keluar?
Bisa dibayangkan bagaimana Indonesia kedepan bila ada para generasi muda yang brutal saat ini menjadi penerus bangsa. Kepedulian kita tidak sampai kepada anak dan keluarga dekat kita namun juga lingkungan. Kenapa? Karena meskipun anak cucu kita sudah kita bekali ilmu dan karakter yang baik namun bila lingkungannya tidak mendukung maka mereka pun akan hidup dalam situasi yang tidak kondusif ke depannya.
Sehingga, masalah apapun yang terkait dengan generasi muda kita saat ini merupakan masalah kita bersama, meskipun mereka bukan anak kandung kita, bukan anak didik kita, bukan ponakan kita dan sebagainya. Meskipun mereka anak orang lain tapi mereka tetap akan hidup berdampingan dengan anak cucu kita kelak.
Maka dari itu mari kita bersama-sama mencari jalan keluar dan kepedulian terhadap masalah-masalah terkait kejadian-kejadian yang mencoreng dunia pendidikan. Semua pihak ada baiknya tidak saling menyalahkan bahkan menghujat. Kita sama-sama melepaskan berbagai kepentingan untuk mencari jalan keluar.
Kehidupan remaja saat ini memiliki tantangan yang sangat besar. Mereka beruntung di jamannya memiliki kemudahan dengan akses internet dan semua fasilitas teknologi dunia yang memudahkan semua aktifitas. Namun dampak negatifnya tentu tidak bisa diabaikan.
Tontonan kekerasan, pergaulan bebas hingga hal negatif lainnya juga terus mengintai termasuk LGBT. Ditambah lagi bagi sebagian siswa yang memiliki orang tua yang sibuk mencari nafkah, baik itu di kalangan bawah hingga atas. Siswa kurang mendapatkan pendidikan moral dan agama membuat siswa banyak belum tahu hal baik dan buruk.
Bila saja di sekolah, gurupun hanya menerapkan hukuman dalam setiap pelanggaran sebelum memberikan pendekatan dan pencegahan maka siswa tidak memilliki kesempatan untuk tahu perilaku yang baik dan tidak baik. Dr Mustofa Abu Sa’id (Doktor dalam ilmu kepribadian dan pendidikan) dalam bukunya mengataan kita semua membutuhkan pujian.
Kita memerlukan penguatan-penguatan yang positif untuk melaksanakan pekerjaan kita. Kita juga merasa bahagia ketika mendengar kata-kata motivasi. Demikian juga anak remaja perlu dipuji. Pujian akan membuat kita merasakan kebahagiaan dan menguatkan potensi kita.
Dr Ali Al-Hammady juga mengatakan bahwa meyakinkan bukanlah hal magis atau sihir, namun sebuah keterampilan yang bisa dipelajari. Jaman telah berubah dan menuju bagiannya masing-masing dan kita “dipaksa” untuk mengikutinya kalau tidak maka kita akan ditinggalkan. Hal-hal positif di jamannya akan lebih bijak kita ambil dan terapkan dengan penyesuaian keadaan saat ini.
Pada dasarnya manusia itu sama, ingin di “manusiakan” sehingga disaat pendidikan seimbang antara hukuman dan pendekatan kasih sayang maka akan lebih baik. Siswa yang terkategori “sakit” memerlukan pengorbanan lebih bagi semua guru khususnya untuk lebih perhatian melakukan pendekatan dari hati ke hati.
Hukuman fisik tidak akan efektif dilaksanakan untuk para siswa yang memang belum tersentuh hatinya. Masyarakat pun berkewajiban memberikan lingkungan yang “sehat” bagi para siswa khususnya remaja. Dengan menjalankan kapasitas kita masing-masing sejatinya kita bisa bersama-sama membentuk karakter para remaja menjadi lebih baik.
Khusus bagi pembuat kebijakan di dunia pendidikan akan lebih baik sebagai langkah awal dan utama mendengarkan pengalaman para guru yang mampu mengendalikan KBM dengan siswa terkategori “sakit” baru kemudian menyelaraskan dengan teori-teori pendidikan dan pembangunan karater. Hal ini penting mengingat pengalaman bisa dijadikan guru terbaik termasuk dalam mengatasi siswa-siswa yang terkategori “sakit”.
Banyak sekali teori dan pakar pendidikan karakter yang tentu teorinya sangat baik dan bersumber dari hasil penelitian dan penyelidikan yang tidak perlu diragukan lagi. Namun mungkin yang menjadi catatan dan masukan, kondisi-kondisi objek harus bisa dibedakan, diantaranya siswa di kota besar, di desa dan di pinggir kota akan berbeda perlakukannya disesuaikan dengan keadaan daerah masing-masing. Hal tersebut yang masih belum terakomodir.
Seorang siswa yang berasal dari keluarga miskin namun dari keluarga yang utuh dan harmonis akan berbeda saat menerima pelajaran dibandingkan siswa dari keluarga mampu namun dari keluarga yang orang tuanya sibuk, apalagi dari keluarga yang miskin dan orang tuanya sibuk mencari nafkah ditambah lagi lingkungan yang banyak memberikan contoh negatif.
Keseimbangan antara hak dan kewajiban guru serta siswa juga perlu dikaji keefektifannya oleh pembuat kebijakan sehingga tidak mengorbankan hal lebih penting yang sering terbaikan. Banyaknya mata pelajaran yang harus dikuasai siswa hingga jam belajar yang banyak tentu membuat lelah fisik yang menimbulkan emosi dan tidak mampu berfikir lebih baik.
Ditambah lagi kegiatan diluar jam pelajaran perlu dikaji lagi keefektifannya di sekolah masing-masing. Sekolah yang memiliki fasilitas lengkap ditambah orang tua yang mendukung dengan segala fasilitasnya tentu siswanya menikmati saja belajar dan kegiatan di sekolah karena kenyamanannya.
Namun bagaimana dengan sekolah yang berfasilitas minim dengan siswa yang orang tuanya sibuk mencari nafkah tapi dituntut harus kreatif dengan jam belajar yang banyak. Semua itu perlu di tinjau kembali., dengan melepaskan semua kepentingan diri dan golongan agar apa yang secara teori kita tujukan bisa tercapai. (*)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!