Terjadi Pergeseran Pilihan Politik

Rabu, 27 Juni 2018 yang ditunggu-tunggu oleh semua pihak sebagai hari H pemungutan suara pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak usai sudah. Perhelatan kontestasi politik mencari pemimpin daerah terbaik sudah berlangsung secara damai dan kondusif di seluruh wilayah daerah yang menyelenggarakan pilkada.
Realitas konstestasi politik dalam pilkada serentak 2018, memang menjadi tolok ukur memanaskan “mesin” menuju tahun kompetisi politik, khususnya bagi kekuatan-kekuatan politik yang akan berkontestasi dalam pemilu legislatif (pileg) dan pemilihan presiden dan wakil presiden (pilpres) di 2019.
Pemilihan Gubernur Sumatera Selatan (Pilgub Sumsel) 2018, juga menjadi salah satu wilayah yang menjadi tolok ukur adu konstestasi politik tersebut. “Adu kekuatan” antara partai politik (parpol) besar pemenang pileg 2014, dengan parpol tengah, berikut pertarungan parpol berdasarkan ideologinya (nasionalis dan agama, khususnya parpol berbasi Islam) yang ter-representasi dalam konteks ketokohan empat pasang calon gubernur dan wakil gubernur Sumsel yang diusung oleh parpol-parpol tersebut, mempertegas eskalasi kontestasi politiknya.
Maka jika dicermati, seperti prediksi banyak pihak, utamanya jika mengacu pada hasil-hasil survei secara periodik yang dilakukan oleh lembaga-lembaga survei nasional, saat proses kampanye berlangsung. Kontestasi mengkerucut pada dua pasangan calon (paslon) yaitu nomor urut 1 Hermas Deru-Mawardi Yahya yang diusung oleh koalisi Nasdem, PAN, dan Hanura, serta pasangan nomor urut 4 Dodi Reza Alex-Giri Ramanda Kiemas yang diusung oleh koalisi PDI-P, Golkar dan PKB.
Sedangkan paslon nomor urut 2 Saifuddin Aswari Rivai-Irwansyah yang diusung Gerindra dan PKS, serta paslon nomor urut 3 Ishak-Mekki-Yudha Pratomo yang diusung oleh koalisi Demokrat, PPP dan PBB diprediksi sulit bersaing dengan paslon nomor urut 1 dan paslon nomor urut 4.
Prediksi banyak pihak dan dengan mengacu kepada hasil survei sebelum 27 Juni kemarin, tak jauh meleset. Dalam versi hasil hitung cepat (quick count) yang dilakukan berbagai lembaga survei seperti SMRC, Indo Barometer, Indikator, Litbang Kompas, Charta Politika, LSI Deny JA dan lainnya, paslon nomor 1 dan nomor 4 bersaing ketat. Paslon nomor 1 HD-MY unggul tipis dari paslon nomor 4 Dodi-Giri di kisaran angka 35 persen lebih berbanding 31 persen lebih. Sedangkan paslon nomor 2 Aswari-Irwansyah berada di kisaran angka 11 persen lebih dan paslon nomor urut 3 Ishak-Yudha memperoleh angka 21 persen lebih.
Persisnya persentase hasil hitung cepat tentu sudah final saat tulisan ini diterbitkan hari ini. Masyarakat Sumsel tentu sudah dapat mencermati apa yang menarik, apa yang berubah dan seperti apa pergeseran-pergeseran pilihan politik dalam pilgub Sumsel kali ini.
Hasil hitung cepat itu tentu finalnya masih harus menunggu hitung manual (real count) yang akan dilakukan oleh KPU Sumsel. Walaupun validitas hitung cepat seringkali tak berbeda jauh dengan hasil akhir hitungan manual KPU. Kalau ada perubahan dan pergeseran bisa jadi tak akan terlalu signifikan berbeda dengan hasil hitung cepat yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga survei tersebut.
Apa catatan penting yang dapat kita petik dari hasil hitung cepat pilgub Sumsel 2018 versi lembaga-lembaga survei ini? Dalam pandangan saya, telah terjadi pergeseran pilihan politik dalam pilgub Sumsel kali ini. Di mana pergeseran pilihan politik itu dipengaruhi oleh dua hal. Pertama, konteks efektivitas kinerja mesin politik parpol dalam mengusung paslonnya. Dan, kedua, konteks ketokohan paslon yang saling berkolaborasi menawarkan visi-misi kepemimpinannya untuk rakyat Sumsel lima tahun ke depan.
Pertarungan parpol pengusung, ketokohan dan visi-misi keempat paslon serta loyalitas paslon menjadi “menu utama” yang dikontestasikan dalam pilgub Sumsel kali ini. Walaupun masih ada, parpol, paslon, pendukung dan pemilih tidak terlalu disibukkan oleh serangan kampanye hitam, isu etnis-agama, termasuk (mungkin) isu politik uang (money politic). Artinya masyarakat Sumsel semakin cerdas dalam dalam berdemokrasi untuk memilih pemimpinnya.
Keempat paslon yang memiliki pengalaman sebagai kepala daerah (bupati, walikota dan wakil gubernur) mendatangi pemilih dengan menawarkan visi-misi yang disiapkan sesuai dengan karakter dan kebutuhan masyarakat di wilayah 17 kabupaten/kota di Sumsel. Mapping basis dukungan suara pemilih itulah yang dibangun oleh keempat paslon untuk memenangkan pilgub Sumsel 2018.
Kita sebagai masyarakat Sumsel tentu berharap, bahwa paslon yang akan ditetapkan sebagai pemenang Pilgub sumsel 2018, adalah representasi kemenangan masyarakat Sumsel secara keseluruhan. Bukan lagi menjadi representasi dari kepentingan kelompok, kekuatan politik ataupun wilayah tertentu.
Jika pasangan HD-MY (yang saat ini unggul versi hitung cepat lembaga survei) ditetapkan sebagai pemenang pilgub Sumsel 2018 oleh KPU Sumsel, tentu diharapkan pasangan ini dengan bijak dapat merangkul semua pihak untuk mewujudkan jargon “Bersatu Sumsel Maju” dan membangun ekonomi berbasis kerakyatan bisa dirasakan oleh seluruh rakyat Sumsel.
Oleh karena itu, mari kita dukung KPU Sumsel dan KPU Kabupaten/Kota beserta unsur-unsur penyelenggara pilkada disemua tingkatan, untuk menuntaskan tugasnya. Kepada keempat paslon beserta pendukung dan simpatisannya untuk tetap bersama-sama bergandeng tangan menjaga suasana kondusif yang sudah tercipta dengan baik guna mewujudkan Sumsel yang semakin berjaya di masa yang akan datang.
Pada konteks yang lebih luas, kita berharap, bahwa kontestasi politik dalam pilgub tidak lagi menjadikan perbedaan pilihan di masyarakat sebagai komoditas politik. Masyarakat sudah menetukan pilihannya, sehingga pilgub diharapkan tidak hanya menghasilkan gubernur dan wakil gubernur, tetapi melahirkan sosok pemimpin yang berjiwa negarawan yang berdiri di atas semua kepentingan, berdiri tegak dan bekerja bersama rakyat membangun dan memajukan Sumsel. Semoga! (*)

Baca Juga :  DPT Bisa Tembus 5,9 Juta

Oleh: Hendra Alfani
(Direktur Eksekutif Lingkar Prakarsa Institute dan Kandidat Doktor FIKOM UNPAD)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!