Terkendala Armada hingga Jarak Jauh

Ilustrasi

Di Balik Bencana Kebakaran

Bencana kebakaran sering terjadi di musim kemarau. Akibat bencana ini, puluhan kepala keluarga harus kehilangan tempat tinggal. Banyak persoalan dihadapi dalam mengatasi kebakaran.

SEJAK tiga bulan terakhir, sedikitnya terjadi enam kali kebakaran di permukiman penduduk. Belasan rumah hangus. ‘’Paling besar musibah kebakaran terjadi di Desa Negeri Cahaya, Kecamatan Buay Sandang Aji, 29 Juli lalu, tujuh rumah hangus dalam kejadian ini,’’ ujar Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) OKU Selatan, Doni Agusta SKM.

Dari hasil laporan forensik, kebakaran dominan akibat hubungan arus pendek listrik. ‘’Untuk itulah, kita imbau warga menggunakan alat, sesuai standar. Jangan pasang kabel kecil pada arus besar, jangan pakai NCB tak sesuai standar. Kesalahan ini bisa berdampak fatal seperti kebakaran,’’ ujar Kabag Ops Polres OKU Selatan, Kompol Hasbullah H.

Untuk penanganan masalah kebakaran, Satpol PP mengaku kekurangan armada mobil pemadam kebakaran. ‘’Kita hanya memiliki 7 unit, 2 unit di Banding Agung dan Kisam Ilir dalam keadaan rusak, lalu di Runjung Agung, Simpang, dan 3 unit di posko kabupaten,’’ ujar Kepala Satpol PP, Zainal Bahri SE, melalui Kabid Trantibum, Andreli Martin SE.

Selain itu, ada juga unit Damkar yang berusia uzur. Ada yang hanya bisa menyiram, tapi tak bisa menyedot. “Masih banyak kendala lainnya yang menjadi penghambat gerak cepat dalam melaksanakan pemadam kebakaran,’’ujar Andreli.
Dikatakan, OKUS memiliki 19 kecamatan dengan jarak cukup jauh. ‘’Idealnya, untuk meng-cover dan menjangkau setiap kecamatan, butuh 10 unit armada pemadam kebakaran, baru penanganan kebakaran bisa maksimal dalam melayani masyarakat,” ujar Andreli.

Saat ini, pihaknya sudah mengajukan usulan anggaran melalui dana anggaran kabupaten (DAK) di tahun 2018 ke Depdagri. ‘’Kita berharap juga dari APBD bisa untuk mengakomodasi usulan penambahan armada ini, apalagi ini sudah menjadi keluhan masyarakat. Mudahan-mudahan terealisasi,” kata Andreli.

Hal yang sama juga dialami Muratara. Minimnya peralatan pemadam kebakaran dan banyaknya rumah panggung berpotensi bencana kebakaran semakin besar. Umumnya, bangunan dan aset warga korban bencana kebakaran nyaris tak terselamatkan lantaran kobaran api sulit diatasi maksimal.

Kepala BPBD Muratara, Zulkifli, sudah menempatkan sejumlah tim pemantau bencana di setiap desa sehingga semua kejadian bencana yang terjadi di wilayah Muratara bisa teratasi. ‘’Untuk persiapan peralatan pertolongan bencana, kita masih minim armada,’’ katanya.

Namun, pemerintah sudah melakukan beberapa upaya, seperti berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk mendapatkan bantuan peralatan. ‘’Kita sama-sama berharap, upaya yang kita lakukan itu bisa terwujud. Kendati terbatas, kita tetap upayakan semaksimal mungkin untuk melaksanakan tugas membantu masyarakat,’’ tuturnya.

Saat ini, pihaknya meminta warga waspada. ‘’Periksa api, listrik. Lalu, sebaiknya sediakan ember. Jika terjadi kebakaran, celupkan handuk ke ember untuk memadamkan api,’’ ucapnya.

Sementara itu, kebakaran yang terjadi di OKU juga didominasi akibat hubungan jarak pendek atau korsleting. ‘’Mencegah terjadinya kebakaran, kita terus menyosialisasikan bahaya dan penyebab kebakaran, baik kebakaran rumah atau bangunan maupun kebakaran hutan dan lahan,’’ ujar Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten OKU, Himda Faruzal SH, Minggu (10/9).

Sejauh ini, penanganan kebakaran terbilang tak ada kendala. Armada yang disiapkan juga dinilai masih memadai. Meski demikian, pemerintah terus melakukan penambahan armada. Penambahan dilakukan untuk mem-back up kecamatan yang belum tersedia armada. Seperti di Kecamatan Kedaton Peninjauan Raya (KPR), Sinar Peninjauan, Sosoh Buay Rayap, dan Muara Jaya.

‘’Di 2018, rencananya ada pengadaan armada untuk Kecamatan KPR,’’ katanya. (cj13/dwa/gsm/ce3)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!