Terorisme dalam Perspektif Islam

Achmad Syarifudin

Oleh: Dr. Achmad Syarifudin, M.A*

Kata “teror”, “teroris” dan “terorisme” menjadi tidak asing di telinga kita. Terutama pasca serangan Al-Qaida di Amerika Serikat pada 11 September 2001 silam. Sehingga, seringkali kata itu dialamatkan kepada orang Islam. Opini publik terbentuk ketika ciri-ciri dari pelaku teror itu digambarkan di media massa atau media cetak. Sehingga umat Islam sendiri terkadang alergi dengan saudara-saudaranya sesama muslim.
Karena itu, terorisme sudah menjadi label yang menimbulkan kesan tersendiri bagi sekelompok orang. Misalnya, dengan menggunakan jubah dan berjenggot panjang, serta lainnya. Sebaliknya, ketika pelaku teror itu tidak menggunakan atribut sebagaimana disebutkan, atau pelakunya ternyata non muslim, reaksi terhadap pelaku teror tersebut tidak sedahsyat jika yang melakukan adalah orang Islam. Dari sini muncul pertanyaan, apa sesungguhnya terorisme, teror, teroris, dan bagaimana perspektif Islam terhadap pelaku teror tersebut.
Terorisme adalah: ”setiap tindakan dari seseorang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal, dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa dan harta benda orang lain, atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas internasional.” Seseorang dalam pengertian di atas dapat bersifat perorangan, kelompok, orang sipil, militer, maupun polisi yang bertanggung jawab secara individual, atau korporasi.
Menurut Muhammad Mustofa dalam bukunya memahami terorisme, kata Terorisme berasal dari Bahasa Perancis yaitu le terreur yang semula dipergunakan untuk menyebut tindakan pemerintah hasil Revolusi Perancis yang mempergunakan kekerasan secara brutal dan berlebihan dengan cara memenggal 40.000 orang yang dituduh melakukan kegiatan anti pemerintah. Selanjutnya kata Terorisme dipergunakan untuk menyebut gerakan kekerasan anti pemerintah di Rusia. Dengan demikian kata Terorisme sejak awal dipergunakan untuk menyebut tindakan kekerasan oleh pemerintah maupun anti pemerintah. Karena itu, kata “terorisme” tidak bisa terlepas dari unsur-unsur politik baik secara mikro maupun secara makro.
Loudewijk F. Paulus berpendapat, terorisme berkembang sejak berabad lampau. Meski istilah teror dan terorisme baru mulai populer abad ke-18. Namun fenomena yang ditunjukkannya bukanlah baru.
Pada pertengahan abad ke-19, terorisme mulai banyak dilakukan di Eropa Barat, Rusia dan Amerika. Mereka percaya terorisme adalah cara paling efektif untuk melakukan revolusi politik maupun sosial, dengan cara membunuh orang-orang yang berpengaruh. Sejarah mencatat pada 1890-an aksi terorisme Armenia melawan pemerintah Turki, yang berakhir dengan bencana pembunuhan masal terhadap warga Armenia pada Perang Dunia I. Pada dekade tersebut, aksi terorisme diidentikkan sebagai bagian dari gerakan sayap kiri yang berbasiskan ideologi.
Perkembangan yang paling menarik terkait aksi terorisme adalah pembenaran perilaku dengan berdalih agama. Aktivis teroris menganggap sebagai jalan suci. Sehingga apapun yang dilakukan dapat dibenarkan dalam pandangan teologis.

Perspektif Islam tentang terorisme
Ketika kita berbicara perspektif Islam, maka Alquran dan Hadis menjadi syarat mutlak untuk menjadi rujukan. Meskipun pada gilirannya, perpspektif itu akan bergantung pada penafsiran para ulama tafsir terkait dengan ayat-ayat yang dirujuk dan pemaknaan hadis-hadis yang dijadikan sumber. Untuk itu, kualifikasi penafsir dan pensyarah hadis sangat berpengaruh pada ketepatan dan keluasan dalam pemaknaan isu yang didiskusikan.
Di dalam Alquran, kata “irhab”, disebut dalam ayat 60 surat Al-Anfal yang artinya menakut-nakuti (turhibuna bihi) musuh Allah dan musuh umat Islam. Artinya hal ini boleh dilakukan. Tapi dengan syarat untuk persiapan dengan kekuatan (quwwah) dan ikatan (ribath) persaudaraan (al-khail). Dengan kekuatan yang dimiliki oleh umat Islam, maka orang lain menjadi segan dan tidak bisa semena-mena dalam memperlakukan umat Islam. Tetapi, prinsip-prinsip kesopanan, kesantunan tetap menjadi ciri khas umat Islam sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW.
Dalam Q.S al-Hujurat : 13 disebutkan, multikultural (beragamnya laki-laki, perempuan, bangsa dan suku) adalah untuk saling mengenal, saling memahami, bukan untuk saling menyerang dan saling menteror. Selain itu, uswah kita, Muhammad SAW dalam beberapa kesempatan menyatakan indikator umat Islam adalah orang yang apabila orang lain aman, selamat, nyaman terhindar dari gangguannya. Ini berarti Islam adalah agama damai anti teror.
Paham teror atau terorisme tetaplah harus dipandang sebagai akibat dari sebuah ideologi dan bukan dipandang sebagai sebuah kejahatan pidana biasa. Mungkin jika untuk tindak pidana umum, adagium “menghukum pencuri ayam agar tidak ada lagi ayam yang dicuri” bisa diterapkan. Tetapi untuk kasus seperti terorisme, mungkin pendekatan lain perlu ditempuh. Sebab, teror adalah aksi kekerasan yang harus diperangi, namun di lain pihak, perlu disadari bahwa aksi tersebut tentu tidak muncul dengan sendirinya. Banyak kalangan percaya hegemoni negara-negara besar terhadap negeri-negeri tertindas telah memicu munculnya gerakan militan di mana-mana, mulai di Palestina, Chechnya, Irak sampai Asia Tenggara. Dalam konteks makro, hal itu harus menjadi perhatian intens masyarakat yang mencintai perdamaian yang langgeng.
Jika akar masalah dapat ditemukan dan solusi yang tepat dapat diberikan, maka terorisme dapat diantisipasi. Selain itu, ideologi dan teologi yang dianut sering kali menyangkut pautkan dengan simbol-simbol agama atau kepercayaan tertentu sebagai justifikasi bagi tindakan teroris, jelas suatu pembenaran sepihak. Sebab agama dan kepercayaan manapun jelas menentang setiap tindakan teror dan terorisme. Karena pelakunya menghalalkan pembunuhan terhadap sesama manusia. Perbuatan mereka bukan mewakili agama atau kepercayaan tertentu, melainkan mewakili “kepercayaan” mereka sendiri. Untuk itulah, semua kalangan umat beragama di tanah air mesti bahu membahu menghadapi aksi teroris yang selalu mengancam masa depan kemanusiaan kita dengan justifikasi agama dan kepercayaan tertentu. Dan yang terpenting adalah tidak mengkaitkan perilaku teror dengan ajaran agama tertentu.

Penutup
Dengan mengenal ciri-ciri kelompok irhabiyyah secara utuh seperti tersebut di atas umat Islam akan mampu membentengi diri dan generasi muda Islam dari virus-virus terorisme yang sangat berbahaya. Radikalisme dapat bermuara pada sikap intoleran dan dapat mudah terpancing untuk melakukan teror. Untuk itu, umat Islam perlu memahami Islam secara lebih luas dan harus yakin bahwa kemenangan Islam pada era akhir zaman hanya mungkin dicapai apabila Islam dengan segala aspek keindahan dan keluhuran nilai ajaran yang dibawanya diperjuangkan melalui budaya cinta kasih, demokratis, tanpa paksaan dan kekerasan sesuai dengan keteladanan Rasulullah SAW.
Dengan ikatan persaudaraan sesama muslim maka akan menambah kekuatan Islam. Allah SWT akan membuktikan, tanpa melalui peperangan atau kekuasaan politik sekalipun, Islam akan tetap unggul dan dapat eksis sepanjang zaman. Ajaran terorisme sama sekali bukan ajaran Islam, tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW, dan sangat menodai wajah Islam sebagai agama yang Rahmatan lil’alamin. (**)

* Dosen UIN Raden Fatah Palembang

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!