”Tersembunyi”, Buka Setiap Minggu

WISATA: Pasar Baba Boentjit yang banyak dikunjungi pengunjung Foto: Alfery/Sumatera Ekspres

Kota Palembang memiliki detinasi wisata baru. Rumah generasi kedelapan dari Ong Cing Cang, disulap menjadi Pasar Baba Boentjit oleh Generasi Pesona Indonesia (GenPi). Masuk dalam tujuh pasar destinasi digital yang dibuat mitra dari Kementerian Pariwisata RI tersebut.

PASAR Baba Boentjit, lokasinya “tersembunyi” di ujung Lr Saudagar Yucing, RT 050, RW 002, Kelurahan 3-4 Ulu, Kecamatan SU I, Palembang. Dari pinggir Jl KH Azhari, masuk sekitar 600 meter atau 10 menit berkendara sepeda motor. Sebab jalannya pun berkelok-kelok, hanya bisa dilalui satu sepeda motor.
Lokasinya di tengah permukiman padat penduduk, untungnya di depan Pasar Baba Boentjit masih ada halaman cukup luas. Terlihat langsung hamparan Sungai Musi, yang sebenarnya lebih dekat dijangkau lewat transportasi air. Rumah kayu bercat hijau itu, kental bernuansa Tiongkok dan Melayu.
”Silakan masuk,” ucap Budiman, penghuni rumah yang merupakan generasi kedelapan dari keturunan Ong Cing Cang. Rumah berukuran 30×70 tersebut terbagi dua bagunan. Bangunan satunya menjadi gudang, dan satunya lagi tempat tinggal. Pada rumah tinggal, bagian terdapat ukiran besar dan lukisan serta panjang berbagai foto dari lulur.
Ada pula sofa, lemari dan interior lainnya yang terlihat cukup tua tetapi masih terlihat terawat dan bersih. Masuk ke dalam lagi (bagian dua rumah) lagi-lagi ukiran dan pintu ukuran besar berwarna merah. Tepat di depannya tempat sembahyang. Di sisi kirinya pula terdapat tulisan Tiongkok kuno yang merupakan kata-kata bijak.
Di samping kanan dan kiri terdapat empat kamar. Bagian ketiga ruangan, ruang dapur dan meja makan. Depannya ada meja (altar) berwarna merah. Di atasnya terdapat empat nisan para leluhur yang merupakan nenek moyang yakni generasi pertama Ong Cing Cang-Che Cuik dan generasi kedua Ong Eng Twan-Fung Leng Niamo. “Nah, generasi ketiga adalah Ong Boentjit, tapi nisannya tidak ada. Hanya ada nisan dari generasi terdahulu,” jelasnya.
Budiman yang tinggal bersama istrinya, Anik Srimanyanti dan ibunya, Dolli Bustan, beserta keduanya anaknya, Dilla dan Oktaviani. Dia menjelaskan, pada nisan tersebut dituliskan silsilah keluarga dan menjadi tanggal meninggalnya kakek buyut. Nah, ketika ada biksu berkunjung ke rumah tersebut baru diberitahu bahwa di dalamnya terdapat informasi mengenai hal itu. “Makanya, kami berani menyebutkan bahwa bangunan ini sudah berusia 300 tahun,” paparnya.
Rumah yang sudah berusia 300 tahun itu, memang memiliki histori. Disebutnya, sudah beberapa kali pejabat datang untuk melihat dan menjanjikan pemeliharaan untuk menjaga rumah yang menjadi cagar budaya. Tapi sama sekali tidak ada realisasi. Akhirnya, beberapa waktu lalu ada tim dari GenPi untuk wilayah Sumsel, datang menawarkan dan memperkenalkan kawasan ini sebagai alternatif wisata.
“Makanya, ada launching pasar dan digelar berbagai event (pada 26 November 2017 lalu,red),” ungkap Budiman. Tentu pihaknya menyambut baik, berharap dapat seperti Kampung Al-Munawar yang dapat menjadikan kawasan dan masyarakat sekitar menjadi lebih baik.
Selain menjadi cagar budaya, bisa pula berpotensi menjadi objek wisata sehingga mampu menarik para wisatawan. “Ya, kami tahu pasti ada konsekuensi rumah ini akan diakses oleh masyarakat, bahkan hingga ke dalam. Tapi bagi kami tidak masalah,” tuturnya.
Pasalnya, kata dia, ini tentu menjadi hal positif dan juga memberikan edukasi. Disamping dapat meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar. “Dengan adanya event ini masyarakat sekitar bisa berjualan dan terlibat aktif,” imbuhnya.
Selain, kata dia, keistimewaan rumah tersebut lantaran interior (desain) berupa ukiran yang merupakan perpaduan antara Kerajaan Sriwijaya dan Tiongkok dan bangunan berumur 300 tahun. “Keluarga yang lain, sudah banyak pindah karena memiliki rumah sendiri,” terangnya.
Diceritakannya, kakek dari Baba Boentjit (yang merupakan generasi ketiga) ini merupakan saudagar dari Tiongkok. Saat ke Palembang ia membawa obat-obatan dan ketika kembali ke sana membawa hasil rempah-rempah. Ternyata, ia jatuh hati dengan warga di sini akhirnya menikah dan mendirikan rumah di pinggir Sungai Musi yang menjadi pusat ekonomi pada masanya.
Diakuinya perawatan rumah ini memang cukup besar sebab sering ketika hujan atap dan lantai merembes. Nah, kerusakan ini harus segera diperbaiki sebab kalau tidak akan menyebar ke titik lainnya. “Tapi kalau untuk di bagian dalam tidak terlalu berpengaruh, kalau bagian depan cepat kusam karena panas dan hujan,” sebutnya.
Ke depan, kata dia, pihaknya berharap agar ada bantuan dari pemerintah untuk pemeliharaan (perawatan), sebab biayanya cukup tinggi. Di samping agar dibangunkan dermaga sebab akan sangat sulit jika tidak ada dermaga apalagi pada saat air surut.
Tentunya, kata dia, perlu ada berbagai event untuk mendorong geliat kunjungan. Kata dia, Pasar Baba Boentjit ini hanya dibuka pada Minggu. Setiap Minggu ada tema yang dihadirkan. ”Minggu ini tema diangkat tahun 1990,” ungkapnya.
Nantinya, akan dihadirkan kuliner khas Palembang dan berbagai permainan dan busana yang dikenakan tahun 1990-an. Selain itu, juga akan melibatkan masyarakat sekitar dengan menghadirkan perajin nipah. “Jadi pengunjung bisa melihat dan belajar membuat kerajinan ini,” tuturnya.
Perwakilan GenPI Nasional untuk wilayah Sumsel, Robby Sunata menjelaskan pemilihan rumah Baba Boentjit sebagai salah satu lokasi wisata, lantaran rumah tersebut merupakan tempat tinggal (rumah) keturunan yang lebih dari 200 tahun. Rumah ini memiliki ukiran dan desain yang apik yang merupakan perpaduan antara Tionghoa, India, Arab, India dan Melayu.
Ini semua menunjukan bukti keragaman masyarakat Sumsel. “Rumah ini pula walaupun sudah tua, tapi masih terlihat jelas sejarahnya dan ukiran dibandingkan rumah Kapitan yang berada di 7 Ulu,” katanya.
Selain usia dan lokasinya berada di pinggir Sungai Musi, sehingga view disana pun sangat bagus. Disamping juga masih tersimpan kearifan lokal. “Warga disana membuat kerajinan nipah, nah wisatawan bisa membuat dan merasakan langsung sensasi membuat kerajinan ini,” jelasnya.
Katanya, penentuan lokasi juga sebenarnya tidak sembarangan. Tetapi juga sudah berkonsultasi dengan para budayawan, arkeologi, sejarawan dan lainnya. “Sebenarnya lokasi ini sudah sangat familiar bagi mereka, namun memang bagi masyarakat biasa masih awam kurang poluler,” ungkap dia.
Karenannya, sambung dia, pihaknya membuat pasar di sana. Pasar itu sendiri hanya nama, namun paling penting keberadaanya untuk memancing wisatawan baik lokal maupun nasional untuk datang. “Selain, Kementerian Pariwisata RI pun memang meminta untuk dicarikan satu titik lokasi wisata di pinggiran Sungai Musi. Setelah dilakukan penilaian di banyak tempat, maka lokasi itu paling refresentatif,” bebernya.
Diakuinya, di Sumsel ini memang banyak sekali lokasi wisata baru. Hanya saja, untuk pemilihan ini tentu tidak mudah dan perlu pertimbangan matang. Seperti melihat berbagai aspek. Termasuk akses dan juga nilai jual serta atraksi untuk menarik wisatawan. “Masalahnya, lokasi wisata di pinggiran sungai ini begitu padat kalau untuk di seberang ulu, sedangkan seberang ilir sudah menjadi pusat ekonomi sehingga tidak bisa sebab akan menggangu priuk nasi orang,” tukasnya.
Ke depan, kata dia, pihaknya akan meminta bantuan dari Kemenpar RI untuk dibuatkan dermaga agar memudahkan akses. “Perjalanan menggunakan transportasi sungai juga menjadi daya tarik tersendiri, sebab banyak pengunjung berfoto-foto dulu sebelum tiba di pasar,” tukasnya. Tahun depan akan ada empat lagi lokasi wisata yang baru akan promosikan. (yun/air/ce1)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!