Tertunda karena Gol Kecelakaan

BELUM AMAN: Airlangga Sucipto, penyerang SFC menang duel bola atas dengan pemain Arema FC pada laga lanjutan Liga 1 di Stadion Bumi Sriwijaya, kemarin (20/10). Foto: M Hatta/Sumatera Ekspres

PALEMBANG – Sriwijaya FC harus bersabar untuk memastikan tiket Liga 1 musim depan dalam genggaman. Skenario untuk amankan posisi agar tidak dikejar penghuni zona degradasi dengan mengamankan pertandingan partai home ke-16 pada pekan ke-30 Liga 1 gagal total.

Ini setelah Yu Hyun Koo dkk hanya mampu bermain imbang 1-1 (1-1) ketika menjamu Arema FC di Stadion Bumi Sriwijaya Palembang, Jumat sore (20/10). Pelatih Sriwijaya FC Hartono Ruslan jelas sedih. Dia berharap perjuangan melawan zona degradasi sejak dipercaya tangani Sriwijaya FC pada 7 Juli silam bisa ditentukan hasil lawan Arema.

Gara-gara kesalahan elementer yang dibuat anak asuhnya, membuat tim berjuluk Laskar Wong Koto harus kehilangan momentum itu. Padahal, perjuangan mereka sudah dibantu nyanyian motivasi dari suporter di tribun stadion.

“Anak-anak main di bawah form. Banyak kesalahan elementer dilakukan. Salah passing dan mudah kehilangan bola sehingga permainan tidak bisa berkembang,” terang Pelatih Hartono usai pertandingan.

Sriwijaya FC sejatinya menyembulkan harapan ketika Nur Iskandar sukses membuka kran gol Sriwijaya FC pada menit 22. Gelandang serang asal Papua ini sukses mengonversi umpan terobosan Yu Hyun Koo dari tengah. Gol ini semakin bakar semangat Yu Hyun Koo dkk untuk menambah gol dengan melakukan serangan bergelombang ke jantung pertahanan Arema.

Baca Juga :  Beto Tegaskan Semua Bisa Diperbaiki Kedepan

Sayangnya, momentum ini justru memunculkan kelengahan di lini belakang Sriwijaya FC. Terus menekan malah membuka lubang di benteng pertahanan Sriwijaya FC. Tujuh menit kemudian, bek kanan Arema FC Marko Kabiay mampu memanfaatkan out of position kiper Teja Paku Alam yang hendak menyambut umpan crossing Makro.

Tapi bola yang dilepaskan Marko bukan crossing melainkan tendangan ke gawang dengan manfaatkan sudut sempit dari sisi kiri pertahanan Sriwijaya FC dan terjadilah gol penyeimbang. Bahkan Sriwijaya FC nyaris kalah jika dua peluang Arema FC tidak diselamatkan mistar gawang.

Pertama dari tendangan Marko Kabiay dan yang kedua dari tandukan Cristian Gonzales menjelang akhir pertandingan. Total, Arema melepaskan enam kali tembakan yang dua di antaranya on target. Sementara Sriwijaya FC mengirimkan delapan kali gangguan yang dua di antaranya on target.

Duel memang berlangsung sengit dan sering terjadi tabrakan antarpemain di lapangan karena kedua pemain terbawa suasana. Arema bernafsu akhiri puasa menang di empat laga sebelumnya, sementara Sriwijaya FC berambisi mengamankan tiket Liga 1 musim depan dari laga ini.

“Inilah sepak bola. Bagaimana pun itu kita tidak bisa salahkan satu pemain. Sudah biasa salah dalam sepak bola. Kita tidak bisa salahkan Teja. Bola yang datang itu di luar dugaan. Bola dari flank itu biasanya pasti crossing. Pikiran kiper pasti ke sana, tapi ternyata tidak. Bola langsung ke mulut gawang. Ya ini namanya kecelakaan lah,” terang arsitek kelahiran Malang ini.

Baca Juga :  Kembali ke Formasi Awal

Hartono menegaskan, Yu Hyun Koo dkk dinilai sudah berusaha untuk menang. Dia pun berterima kasih atas upaya keras yang disajikan pemain sepanjang pertandingan. “Anah-anak sudah berusaha untuk menang. Tapi hasil akhirnya ya seperti ini. Arema kami akui memang bermain lebih baik. Mereka lebih bisa mengembangkan permainan. Mereka juga lebih banyak menguasai jalannya pertandingan,” jelasnya.

Kapten Sriwijaya FC Yu Hyun Koo menjelaskan, rekan-rekan setimnya mau mengevaluasi diri dari hasil imbang ini. Sebab, secara permainan para pemain sudah mengeluarkan kemampuan maksimal. “Pemain harus mau evaluasi diri karena ke depan harus lebih maksimal lagi. Kita butuh banyak poin untuk menaikkan posisi di papan klasemen,” jelas gelandang asal Korea Selatan ini.

Sementara itu, Pelatih Arema FC Joko Susilo mengaku, Sriwijaya FC tetap akan merepotkan anak asuhnya meski main tidak full team. Sriwijaya FC dianggap sebagai tim kuat dan kompak. Model permainan ini sudah antisipasinya sejak awal.

Karena itulah dia menyiapkan komposisi pemain yang memang sesuai untuk mendukung strategi di lapangan. Sekalipun banyak pemain kunci tidak main sejak awal pertandingan macam Christian Gonzales, Adam Alis, bahkan Juan Pino hang ada masalah dengan kebugaran sehingga tidak tampak di lapangan.

Baca Juga :  Ayo, Jauhi Zona Degradasi!

“Saya tidak menyimpan pemain. Semua ini murni karena kebutuhan strategi. Hasil draw kami syukuri meski kami sejatinya ingin menang. Terbukti di 20 menit terakhir kami tambah pemain depan. Saya tidak bertahan,” ungkap pelatih yang karib disapa Gethuk ini.

Gethuk mengaku minta maaf atas sikap berlebihan saat memprotes keputusan wasit. Menurutnya, aksi dengan bergerak terlalu aktif itu agar mendapatkan perhatian wasit. Tujuannya, agar protesnya ke wasit di dengar. Dia protes agar wasit memproteksi pemain. Baginya, aksi mendorong dan tekling merupakan aksi berbahaya dalam sepak bola. “Saya hanya ingin menyelamatkan pemain. Maaf jika sikap saya berlebihan,” terangnya. (kmd/ion/ce1)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!