Tidak Ada Tempat untuk Orang Intoleran

Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Foto: JPG

YOGYAKARTA – Dua dari tiga korban penyerangan Gereja Lidwina Bedog Gamping Sleman saat ini masih dirawat di ruang Intensive Care Unit (ICU) Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta. Kondisinya dinyatakan makin membaik , dalam waktu dekat akan dipindahkan ke ruang perawatan.
“Saat ini di ICU ada dua, Romo (Prier) dan Yohanes (Trianto), sedang Budiyono berada di ruang perawatan biasa,” ujar Direktur Utama RS Panti Rapih Jogja dr Teddy Janong, MKes dalam jumpa pers kemarin. ”Makan, minum baik, sekarang tinggal diantisipasi apakah ada infeksi di luka dan dampak psikologis trauma.”
Untuk luka-lukanya sendiri, Teddy mengatakan yang terparah memang Triyanto karena terkena sabetan pedang di kening sepanjang sekitar 15 cm, dan sedikit di pangkal hidung. Sedang Romo Prier di kepala bagian belakang. Tapi sabetan pedang tersebut tidak sampai mengenai bagian otak. Luka-luka di kepala korban pun sudah dibersihkan dengan operasi dan dijahit. “Dampak operasi mual dan pusing juga sudah tidak dirasakan,” ungkapnya.
Presiden Joko Widodo menegaskan tidak ada tempat bagi orang-orang yang tidak mampu bertoleransi di Indonesia. “Kita harus tahu semuanya bahwa konstitusi kita menjamin kebebasan beragama. Oleh sebab itu, kita tidak bisa memberikan tempat pada orang-orang yang melakukan, mengembangkan, dan menyebarkan intoleransi di negara kita,” tegas Presiden Jokowi usai membuka Raker Kepala Perwakilan RI di Kementerian Luar Negeri, kemarin (12/2).
Menurut Presiden Jokowi, kejadian tersebut bukan hanya terjadi di Indonesia. Kejadian serupa juga terjadi di hampir semua negara. Keterbukaan informasi, kata Presiden Jokowi, menjadi salah satu pemicunya. Kendati begitu, bukan berarti kejadian intoleransi tersebut bisa dimaklumi. “Sekali lagi perlu saya sampaikan. Tidak ada tempat bagi mereka yang tidak mampu bertoleransi di negara kita Indonesia. Apalagi dengan cara-cara kekerasan. Berujar saja tidak. Apalagi kekerasan,” kata Presiden Jokowi tegas.
Terpisah, Kapolri Jenderal Tito Karnavian memastikan Suliono yang menyerang gereja Santa Lidwina merupakan jaringan anggota teroris. Suliono tercatat pernah berada di Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng). Pelaku terindikasi kuat terkena paham radikal yang pro dengan kekerasan. ”Dia pernah ke Poso Sulteng, di sana ada kelompok Santoso,” paparnya, di Polda Metro Jaya.
Yang semakin menguatkan adalah pelaku pernah membuat paspor yang rencananya dipergunakan untuk berangka ke wilayah ISIS di Suriah. Namun, dia tidak berhasil berangkat. ”Mabes Polri dan Polda terus mendalami siapa pelaku,” ujarnya.
Kemungkinan besar setelah gagal berangkat itu, pelaku memutuskan untuk melakukan amaliyah. ”Yang dalam tanda petik menyerang kafir versinya sendiri,” terangnya. Ssaat ini sedang digali lebih dalam terkait Suliono ini apakah hanya lone wolf alias pelaku tunggal atau justru merupakan bagian dari sebuah jaringan. ”Kami ingin mengetahuinya.”
Karena itu pelaku yang saat ini sedang dirawat tentu jangan sampai meninggal dunia. Tito sudah menginstruksikan agar pelaku diberikan perawatan kesehatan terbaik sehingga, nantinya bisa dilakukan pemeriksaan. ”Kita akan korek informasi dari yang bersangkutan,” urainya.
Yang juga penting, anggota kepolisian yang melumpuhkan pelaku, namun tetap berupaya agar pelaku tetap hidup. ”Saya apresiasi yang tinggi pada anggota yang melumpuhkan. Cepat datang ke TKP,” paparnya.
Tito juga berharap masyarakat jangan mengkait-kaitkan antara kasus di penyerangan gereja. Sebelumnya ada dua kasus penyerangan terhadap tokoh agama. Namun, semua kasus itu telah terkuak, pelaku memang oleh psikiater terindikasi mengalami gangguan jiwa. ”Kasusnya dilihat hanya penganiayaan biasa,” ujarnya.
Bila dikait-kaitkan justru bisa menimbulkan spekulasi. Kondisi itu bisa membuat keresahan di masyarakat. ”Polri tidak ingin berspekulasi dengan adanya motif tertentu, namun malah beranjak dari fakta hukum,” ujarnya. (and/idr/air)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!