Tiket Bus Naik 30-100 Persen

SUMSEL – Kenaikan tarif angkutan di momen arus mudik-balik Lebaran tak dapat dihindarkan. Selalu terjadi. Lantaran tingginya mobilitas penumpang yang menggunakan seluruh moda angkutan.
Bahkan, saat ini sejumlah moda transportasi mulai menaikkan tarif seperti angkutan darat, bus AKAP/AKDP. “Tiket memang mengalami kenaikan, terutama tujuan Palembang-Jakarta,” ungkap karyawan ticketing PO Kramat Djati, Welda.
Diakui, jumlah penumpang mengalami kenaikan 50 persen dibandingkan hari biasa. Untuk meng-cover itu, pihaknya menambah armada. Dari 1 bus sehari, menjadi 2-3 bus.
Soal kenaikan tarif, tambah dia, mulai dilakukan 11 Juni. “Tarif normal Palembang-Jakarta (P/P) Rp230 ribu, pada H-1 sampai H+2 (14-16 Juni) tiket kita jual Rp260 ribu,” jelasnya. Tertinggi akan terjadi kenaikan pada 17-24 Juni. Dijual seharga Rp475 ribu saat arus balik dari Palembang menuju Jakarta. Kenaikan itu 100 persen. Setelah itu, sampai 16 Juli harga tiket akan berangsur turun sampai normal kembali.
“Jadi baik naik maupun turun itu bertahap. Mengikuti permintaan penumpang,” sebutnya. Walaupun naik harga, kata dia, ini tak terpengaruh dengan jumlah penumpang. Tiap tahun juga demikian. Selain Kramat Djati, PO Damri juga mengalami kenaikan. “Naik mulai besok (hari ini, red). Bedanya tarif kami sekali naik, tidak bertahap. Harga normal tujuan Palembang-Jakarta Rp320 ribu menjadi Rp350 ribu,” ujar Manajer Operasional Damri Palembang, Bambang di pool Damri Jl Kol H Barlian Km 9, kemarin. Kenaikan tarif itu berlaku dari H-8 sampai H+8 Lebaran. Di pool sendiri, sebutnya, lonjakan penumpang belum begitu terlihat. Apalagi saat ini pemudik banyak pilihan moda transportasi.
Dia mengakui, jika jelang Lebaran arus kedatangan banyak dari Jakarta ke Palembang (arus mudik). Sedangkan keberangkatan dari Palembang ke Jakarta tak begitu padat. “Dari Palembang baru ramai arus balik ke Jakarta,” tuturnya. Total armada Damri ada 75 unit. Khusus Palembang bisa ditambah 2-4 armada. Penambahan penumpang 20 persen dibanding hari normal.
PO lain juga hampir pasti menaikkan tarif. Baik itu PO Lorena, Arya Prima, Maju Prima, Giri Indah, Limbersa, dan lainnya. “Sekarang masih normal, masih nungu ketetapan. Tarif mulai naik 8-9 Juni. Tak lebih dari 20 persen,” ujar Yus, karyawan agen tiket PO Armada Arya Prima.
Rute Palembang-Jakarta dijual Rp220 ribu. Kenaikan nanti sekitar Rp250 ribu-Rp300 ribu-an. Hal yang sama juga dilakukan PO Giri Indah, kenaikan tiket akan dilakukan setelah H-3 Lebaran. “Kami masih jual tiket harga normal. Naik itu pasti, tetapi belum tahu berapa. Lihat kondisi nanti,” terang seorang karyawan PO.
Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kota Palembang, Sunir Hadi menjelaskan kenaikan tarif itu mengikuti tarif tuslah (tambahan ongkos). Tetapi tarif ini hanya berlaku pada angkutan-angkutan luar kota saja. “Asalkan sesuai ketentuannya per berapa persen. Tetapi kalau antarkota dipastikan tarif tidak ada kenaikan,” terangnya.
Kepala Terminal Karya Jaya, Kms Fauzi Azzali mengatakan, jika melihat volume penumpang angkutan harian, jauh dari harapan dan ekspektasi. ”Turun 10 persen setiap tahun. Ini karena penumpang banyak pilihan transportasi lain. Termasuk mobil travel, kereta, pesawat. Tapi jumlah ini masih tertolong arus Lebaran yang mampu meningkatkan jumlah penumpang angkutan darat,” tuturnya.
Dia memprediksi arus mudik Lebaran tahun ini akan berjalan normal. Tidak ada lonjakan signifikan. “Kalau harian kisaran 30-50 bus sehari baik AKAP/AKDP yang lewat terminal. Tujuan terbanyak ke Pulau Jawa,” ulasnya.
Bagaimana moda transportasi lain? Manager Humas PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divre III, Aida Suryanti menjelaskan, khusus tarif kelas ekonomi tak mengalami perubahan. Tetap Rp32 ribu baik tujuan Kertapati-Tanjung Karang maupun Kertapati-Lubuklinggau (P/P). “Jadi walau permintaan penumpang tinggi, tarif ekonomi tetap normal karena menggunakan skema subsidi,” ujarnya.
Hanya saja, lanjut Aida, khusus tarif kelas bisnis dan eksekutif berlaku tarif batas atas dan batas bawah seperti halnya transportasi udara (pesawat). Diakui Aida, tarif yang dikenakan mulai Rp120 ribu-Rp220 ribu. “Seperti pesawat, makin sedikit kursi tiket dijual makin mahal. Jadi pesannya memang jauh-jauh hari kalau mau dapat harga murah,” tuturnya.
Mulai kemarin (6/6), lanjut Aida, pelaksanaan arus mudik sudah dimulai. “Sesuai prediksi penumpang hari ini (kemarin, red) full sesuai tiket yang dipesan baik tujuan Tanjung Karang maupun Lubuklinggau,” imbuhnya. Walaupun demikian, kepadatan penumpang tidak signifikan, sesuai dengan jumlah tiket disiapkan dan dijual via online.
“Kita juga tidak menyiapkan kursi tambahan untuk arus mudik ini. Apalagi ini baru keberangkatan pertama. Tapi dari catatan, untuk KA ekonomi sudah penuh pesanan sampai 25 Juni. Yang tersisa KA kelas bisnis dan eksekutif, itu juga keberangkatan H-3 sudah penuh,” terangnya.
Walau demikian, penambahan gerbong tak menutup kemungkinan diterapkan. “Jumlah disesuaikan kebutuhan di lapangan dan penumpang yang ada.”
Maskapai penerbangan juga menerapkan hal yang sama. Memakai skema tarif batas atas dan bawah. General Manager Garuda Indonesia Branch Palembang, Wahyudi Kresna melalui Sales & Marketing, Meisye mengaku tak ada kenaikan tarif maskapai. Yang ada tarif batas dan bawah. “Jadi saat peak seasons, harga tiket terendah (batas bawah) atau promo lebih sedikit kita jual. Itupun sudah dipesan penumpang jauh hari. Yang banyak kita jual tarif normal,” terangnya
Diakuinya, saat ini trafik penumpang mulai meningkat. Apalagi diiringi mulainya masa liburan sekolah. “Peak session antara 8-24 Juni atau H-7 sampai H+9 Lebaran Idul Fitri,” tuturnya. Rata-rata load factor Garuda 75-80 persen, tapi beberapa rute seperti Palembang-Denpasar dan Palembang-Medan sudah penuh di hari tertentu. Khusus Garuda, sejauh ini belum ada rencana extra flight.
District Manager Citilink Palembang Bachtiar Setiawan menyatakan tarif sesuai batas atas dan bawah, dari termurah sampai termahal seperti pada 9-12 Juni. “Tiap tahun seperti itu. Kalau jelang Lebaran, kita jual tiket yang lebih mahal,” bebernya. Peak season terjadi sekitar 11-24 Juni, dan saat ini load factor Citilink masih normal 80 persen. “Untuk tambahan ada 12 extra flight rute ke Cengkareng pukul 22.20 WIB pada 11-24 Juni,” jelasnya.
Direktur Komersial Sriwijaya Air, Tito Nursatio mengatakan untuk Lebaran, rute Palembang-Jakarta akan ada extra flight. Selama ini rute yang awalnya 5 kali sehari reguler. Mulai 11 Juni diajukan bertambah 7-10 kali sehari. “Ini kita usahakan menjadi tetap. Jadi tak hanya saat Lebaran saja. Kita kejar momen Asian Games,” katanya.
Secara nasional, kata dia, Sriwijaya Air menyiapkan 125 ribu kursi tambahan atau extra flight mulai 7-24 Juni. “Untuk peak seasons, puncak sekitar H-5 sampai H-1 dan H+2 sampai H+7. Nanti jika sudah sold out pasti akan kita tambah extra flight,” ujarnya.
Kadiv Ops Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II, Zulbrito mengatakan baru Sriwijaya Air menambah extra flight dari 3 kali jadi 5 kali tujuan Palembang-Jakarta (P/P). “Untuk maskapai lain sudah ada beberapa yang mengajukan penambahan, tapi masih tahap pengkajian,” cetusnya.
Berbeda dengan angkutan kapal laut (feri). Kepala Pelabuhan Penyeberangan TAA, Zulkarnain SH mengakui tidak ada kenaikan tarif angkutan feri, tujuan pelabuhan TAA ke Pelabuhan Tanjung Kalian, Muntok. “Meski ada kenaikan penumpang, harga tiket yang kita jual tetap sama. Untuk anak-anak Rp27 ribu per penumpang, dan dewasa Rp40 ribu,” jelasnya. Jadwal pelayanan kapal feri setiap hari mulai pukul 09.00 sampai 19.00 WIB.
Penanggung Jawab Kegiatan Angkutan Lebaran Dinas Perhubungan (Dishub) Sumsel, Yanuar menerangkan tidak ada yang namanya tuslah termasuk di moda angkutan darat. Yang berlaku itu, tarif atas dan tarif bawah. “Tidak ada tuslah sama seperti keret. Jadi harga bermain di situ saja,” jelasnya.
Kalaupun ada kenaikan tarif, kata dia, tak boleh lebihi batas atas yang sudah diatur Kemenhub maupun Gubernur. “Kalau yang kami atur angkutan darat kelas ekonomi. Moda transportasi lain acuannya tetap sama masing-masing gunakan tarif batas bawah dan atas yang langsung diatur Kemenhub,” tuturnya. Diakuinya, pelanggaran tarif yang lebihi batas atas akan dikenaikan sanksi. “Sanksi tergantung tingkat kesalahan dari berupa teguran sampai pencabutan izin operasional,” sebutnya. (cj11/yun/kms/cj16/cj15/cj14/afi/fad/ce2)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!