Tolak Akuisisi Pertagas Ke PGN

SAMPAIKAN PENDAPAT: SPPG melakukan aksi damai dan doa bersama menolak akuisisi Pertagas ke PGN. Foto: Eko/Sumatera Ekspres

PALEMBANG – Aksi penolakan akuisisi Pertagas ke PGN terus berlanjut. Kali ini datang dari Serikat Pekerja Pertamina Gas (SPPG). Sebanyak 170 pegawai, kemarin (13/7), menggelar aksi doa bersama dan unjuk rasa sebagai bentuk kekecewaan terhadap kebijakan pemerintah yang ingin mengakuisisi perusahaan mereka.
Kabid Hubungan Industrial SPPG, Andre Tobing mengatakan penolakan yang dilakukan pekerja dinilainya sangat wajar dan beralasan. Sebab, PGN yang akan mengakuisisi Pertagas kepemilikan sahamnyya sebanyak 43,036 persen dikuasai swasta/public. Dari dominasi kepemilikan swasta tersebut, hamper mayoritas dikuasai oleh asing. Artinya, langkah pemerintah sama saja menjual asset Negara ke asing.
“Sementara gas yang menjadi sumber energy penting bagi Negara sudah sepatutnya dikelola oleh Negara seperti yang tertuang dalam Pasal 33 ayat 2 UUD 1945,” katanya.
Tindakan akuisisi tersebut, sambungnya, berpotensi menimbulkan kerugian Negara dan patut diduga danya tindakan penyelewengan dan penyalahgunaan wewenang yang bertujuan menguntungkan sekelompok pihak tertentu saja. “Proses akuisisi ini juga tidak menjamin harga gas bisa murah,” terangnya.
Proses akuisisi juga dinilai sangat buru-buru. Sebab, jika ingin menjalankan holding migas tidak perlu melakukan akuisisi. “Bisa dengan sinergi saja antara kedua perusahaan. Kenapa harus akuisisi. Itu yang kami pertanyakan,” bebernya.
Pertagas sebagai perusahaan yang sehat dan memiliki proyeksi keuntungan bisnis yang baik sahamnya berpotensi divaluasi atau direkayasi lebih rendah dari nilai yang seharusnya. “Terutama jika oknum pengambil keputusan mengidap moral hazard dan pihak swasta atau asing yang berkepentingan untuk mengeruk keuntungan,” ucapnya.
Menurut Andre, akuisisi sebenarnya tidak akan berdampak terhadap kesejahteraan ataupun komposisi karyawan. Sebab, bisnis penjualan gas saat ini tengah mengalami perkembangan. Bahkan, perusahaan saat ini kekurangan karyawan untuk pengembangan bisnis. “Hanya saja, proses ini akan berdampak terhadap pengelolaan gas,” terangnya.
Ia berharap pengambil kebijakan dalam hal ini pemerintah dan manajemen Pertamina bisa mendengar aspirasi dari pekerja. Jika proses akuisisi tetap berlangsung, maka pihaknya bakal melakukan aksi lanjutan dengan menyetop kegiatan di seluruh lini bisnis Pertamina. Mulai dari eksplorasi, kilang dan penjualan. “Kami sebelumnya mohon maaf kepada seluruh masyarakat karena nantinya berdampak kepada aktifitas sehari-hari. Sebab, jika akuisisi masih dilakukan sebanyak 7800 anggota serikat pekerja pertamina akan menghentikan segala aktifitasnya,” pungkasnya. (kos)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!