Unsri: Almamater, Keprihatinan dan Masa Depan

Prof Juwono

Oleh : Prof. Yuwono

UNIVERSITAS Sriwijaya (Unsri) telah berdiri sejak Oktober 1960, memiliki 2 kampus yang sangat luas yaitu di Bukit Besar Palembang 32,5 hektar dan di Indralaya Ogan Ilir 712 hektar, termasuk salah satu universitas tua di Indonesia. Unsri telah melahirkan segudang prestasi yang membanggakan termasuk sekitar 100 ribu alumni yang mampu berkiprah di berbagai bidang.
Cita-cita Unsri untuk menjadi universitas berkelas dunia tentu tidak lepas dari berbagai masalah atau kendala yang dihadapi baik internal maupun eksternal. Problem eksternal yang juga dihadapi universitas lainnya di Indonesia adalah soal daya saing dengan universitas luar negeri dilihat dari berbagai indikator terutama publikasi.
Perlahan namun pasti problem eksternal ini mulai terurai dan mulai diselesaikan secara bertahap. Sudah menjadi bukti di manapun bahwa problem besar suatu lembaga, individu bahkan Negara adalah problem internal. Para filsuf yang bijak menyatakan bahwa kita tidak akan mungkin mampu mengatasi berbagai problem sebelum kita mampu menaklukan diri kita sendiri.
Di sinilah inti dari pembicaraan tulisan ini. Tentu saja konsekuensi dari “mampu menaklukan diri sendiri” adalah pemahaman yang baik akan diri yang meliputi talenta (potensi), minat, sikap hidup dan budaya.
Potensi atau talenta sedemikian penting hingga termaktub dalam Alquran Surat Bani Israil ayat 84 yang menyatakan bahwa setiap manusia beramal berdasarkan pola talentanya. Pola talenta meliputi sekitar 35 sifat (karakter) yang terbagi menjadi 3 bagian yaitu 7 karakter pertama sebagai keunggulan, 14 karakter berikutnya adalah karakter yang rerata orang memilikinya dan 14 karakter terakhir kelemahan.
Keunggulan harus ditumbuh-kembangkan dengan optimal. Pendekatan (approach) dan berbagai cara (methods) harus ditempuh untuk ini. Kelemahan harus disiasati agar tidak menjadi penghalang apalagi penghancur segala sesuatu yang sudah kita capai. Talenta menyadarkan bahwa setiap kita istimewa-berbeda dengan orang lain. Istilah cacat, difabel, disabilitas atau luar biasa yang disematkan pada orang-orang tertentu merupakan pemahaman yang tidak tepat karena dibalik semua eksistensi di dunia ini pasti ada hikmah atau keistimewaan yang diisyaratkan oleh Sang Maha Pencipta-kita tinggal menggali untuk memahaminya.
Setelah kita paham bahwa setiap kita berbeda, kita istimewa dengan talenta atau potensi yang unik (spesifik) yang jika dipadukan dengan talenta orang lain akan menghasilkan sinergi dan produktifitas yang lebih baik. Di sinilah titik dimana kita harus menyadari bahwa persatuan, persaudaraan dan kerjasama adalah kebutuhan mutlak. Pada penerapannya dalam kehidupan, akan terlihat setiap kita memiliki perbedaan ketertarikan akan suatu hal, inilah yang disebut minat. Minat inilah yang menentukan seseorang menjalani sesuatu dengan senang (enjoy) atau dengan terpaksa.
Di universitas, minat disebut major dan dikelompokkan pada program studi yang terdapat dalam rumpun ilmu yang besar di tiap fakultas. Unsri memiliki 10 fakultas yaitu ekonomi, hukum, teknik, kedokteran, pertanian, keguruan dan ilmu pendidikan, ilmu sosial dan ilmu politik, matematika dan ilmu pengetahuan alam, ilmu komputer serta kesehatan masyarakat. Setiap tahun lebih dari 7000 mahasiswa baru berbagai program studi dan strata diterima oleh Unsri.

Baca Juga :  Jadikan Mahasiswa Sendiri Objek Penelitian

Keprihatinan
Pada paruh pertama tahun 2017 ini, Civitas Unsri merasa prihatin dengan prestasi yang diraih secara keseluruhan dimana Unsri tertinggal dari Univeristas Andalas, Universitas Riau dan Universitas Lampung. Jika ditelusuri ke belakang, dapat diketahui bahwa ketiga universitas di Sumatera tersebut berada di bawah peringkat Unsri.
Layaknya tim sepakbola maka Unsri adalah prototipe tim sepakbola di Asia yang bisa anjlok atau bahkan terdegradasi dan hilang dari kompetisi liga bergensi. Berbeda dengan tim sepakbola Eropa misalnya Liverpool, meskipun mengalami penurunan prestasi dalam 1 dekade terakhir tetapi secara keseluruhan (overall) pamor dan wibawa (dignity) masih tetap diakui bahkan masih mendulang laba yang tidak sedikit. Ini adalah masalah kesadaran rasa memiliki dan kebersamaan dalam tolong-menolong dalam kebaikan. Tampaknya, 2 hal terakhir mulai terkikis pada Civitas Unsri.
Kejadian sepekan terakhir ini dimana para mahasiswa yang dimotori oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yaitu lembaga resmi mahasiswa internal Unsri yang keberadaannya dijamin undang-undang melakukan serangkaian unjuk rasa mengenai masalah Uang Kuliah Tunggal (UKT).
Berkaca pada sejarah panjang Unsri yang mendahulukan kasih-sayang dan fokus pada solusi, maka yang terjadi sepekan terakhir sebagaimana termuat dalam berbagai media adalah hilangnya rasa kasih sayang dan timbul saling menyalahkan.
Bentrok atau ujaran atau sikap yang tidak baik, saling tinggi hati dan tidak merendahkan hati salah satu diantara 2 pihak yaitu Manajemen Unsri dan Mahasiswa merupakan bukti lunturnya kasih-sayang. Apapun alasannya, ini tidak baik dan menimbulkan dampak serta kesan yang tidak baik di masyarakat luas.
Bahwa UKT atau apapun masalahnya adalah “masalah”, tidak perlu diperdebatkan apalagi ditimpakan pada salah satu pihak sebagai pihak yang bersalah. Masalah ada agar kita pecahkan. Masalah ada agar kita menjadi kuat. Masalah bukan untuk dimasalahkan.
Masa Depan
Hukum alam (law of nature) adanya giliran (turning) kejayaan atau keruntuhan suatu peradaban sebagaimana dimuat dalam Alquran Surat Ali Imran ayat 140. Siklus tersebut adalah suatu keadaan yang nyaman (mengenakan) akan menjadikan manusia santai dan lemah yang kemudian berakhir pada masalah dan keterpurukan.
Kemudian jika masalah dan keterpurukan ini disadari sebagai hal yang harus diselesaikan maka manusia akan bangkit untuk menjadi kuat sehingga pada akhirnya akan kembali berjaya dan memperoleh kenyamanan. Sikap senantiasa waspada atau mawas diri adalah kunci panjang-pendeknya siklus ini. Dengan bersatu padu, saling menyayangi dan memaafkan, fokus pada solusi dan kerjasama dengan berbagai kalangan maka kita akan segera keluar dari masalah dan lebih lama bisa mempertahankan kejayaan.
Masa lalu hanyalah kenangan untuk sekedar dijadikan hikmah. Hari ini adalah kenyataan yang harus dihadapi sepahit apapun itu dengan kepala yang cerdas dan jernih serta sikap yang sabar dan hati yang lapang. Masa depan adalah milik generasi kita yaitu anak-cucu kita termasuk mahasiswa Unsri yang tengah belajar saat ini.
Siapapun kita hendaknya mempersiapkan segala sesuatu untuk menghadapi masa depan yang kata para orang bijak adalah masa yang berisi perubahan sangat cepat (Volatility), penuh ketidakpastian (Uncertainty), rumit (Complexity) dan tidak jelas (Ambiguity) atau VUCA.
Almamater akan dikenang selamanya dan keprihatinan adalah modal untuk membakar perasaan kita agar terdorong untuk mencapai masa depan yang lebih baik (Eagerness). InsyaAllah Unsri akan segera menapak sebagai salah satu universitas terkemuka. Bravo Unsri, Bravo Manajemen Unsri, Bravo Mahasiswa Unsri! (*)

Baca Juga :  Upaya Polda Berbenah

*Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (Unsri)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!