Urgensi Mendidik Anak

Oleh : H. ABDUL RAHMAN, SAg, MPdI

Rasa cinta kasih dalam diri anak akan tumbuh seiring dengan kasih sayang yang diberikan orang tua kepada anak-anaknya, sehingga mereka memiliki kesiapan untuk berbakti kepada orang tua dan mengasihi orang lain. Ketidak berdayaan orang tua dalam mencurahkan kasih sayang kepada anak-anaknya akan melahirkan anak-anak yang memiliki kelainan dan kebencian kepada orang lain, timbul rasa kehilangan kehangatan seorang ibu dan kebanggaan kepada bapak serta pemeliharaan keduanya.
Karenanya keberhasilan dalam mencetak generasi penerus (anak) yang shalih merupakan harapan dan impian semua orang tua. Salah satu perilaku yang mencerminkan anak yang shalih adalah kesadaran anak akan besarnya jasa dan kebaikan orang tua yang direfleksikan dalam bentuk do’a agar orang tua diliputi oleh rahmat/kasih sayang Allah, seperti do’a anak shalih yang populer dalam Q.S.Al-Isra’ : 24
Menurut Ahli Tafsir kata Junah pada mulanya berarti sayap. Seekor burung merendahkan sayapnya pada saat ia hendak mendekat dan bercumbu kepada betinanya, demikian juga bila ia melindungi anak-anaknya. Sayapnya terus dikembangkan dengan merendah dan merangkul, serta tidak beranjak meninggalkan tempat dalam keadaan demikian sampai berlalunya bahaya. Dari sini ungkapan itu dipahami dalam arti kerendahan hati, hubungan harmonis serta perlindungan dan ketabahan.
Redaksi ayat ini terdapat tambahan kata Adz-Dzul / kerendahan. Dalam konteks keadaan burung, binatang itu juga mengembangkan sayapnya paada saat ia takut untuk menunjukkan ketundukannya kepada ancaman. Di sini sang anak diminta untuk merendahkan diri kepada orang tuanya terdorong oleh penghormatan dan rasa takut melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan kedudukan ibu bapaknya.
Sifat rendah diri penuh kasih dan disempurnakan dengan do’a tarhim kepada kepada orang tua merupakan ciri dan indikator bagi anak-anak yang shalih. Anak dapat dikatakan shalih atau berbakti kepada orang tua bila anak tersebut tidak melupakan jasa baik orang tuanya. Salah satu cara berbakti kepada orang tua adalah mendo’akan orang tua dengan penuh kesadaran dan ketulusan seperti yang tercantum dalam Q.S. Al-Isra’ : 24 di atas. Do’a anak yang shalih inilah merupakan manfaat yang akan didapatkan oleh orang tua.
Anak yang shalih yang selalu mendo’akannya” (H.R. Muslim dari Abu Hurairah). Ini menunjukkan bahwa pendidikan yang baik tersebut mempunyai urgensi bagi orang tua anak yang bersangkutan. karenanya orang tua sedini mungkin mempersiapkan anak untuk masa depan, apapun pengorbanan, berapapun pengeluaran yang dikeluarkan untuk mendidik anak menjadi shalih maka itu bukan biaya tetapi modal yang akan mendatangkan keuntungan kelak.
Anak yang shalih itu tidak akan tercipta begitu saja tanpa proses pendidikan yang baik yang diproyeksikan oleh orang tua dengan segala kesabaran dan kebijakannya. Hal itu tidak akan terwujud jika anak diperlakukan oleh kedua orang tuanya dengan kejam, dididik dengan pukulan yang keras, cemoohan pedas, serta diliputi dengan penghinaan dan ejekan, maka yang akan timbul adalah reaksi negatif yang tampak pada perilaku dan akhlak anak.
Anak bagai kertas putih yang dapat diwarnai kapan dan dimana saja oleh orang tuanya. Karena tidak ada jalan lain kecuali mendidik, dan mengarahkan anak kepada kebajikan hingga menjadi duta-duta kebajikan penuh bakti kepada orang tua. Alangkah kecewa bila suatu saat anak justru berbalik menyalahkan orang tuanya yang tidak bertanggung jawab mendidik mereka.
Abdullah Nasih ’Ulwan menceritakan : ”Pernah seorang laki-laki datang kepada Umar Ibnul Khaththab mengadukan kedurhakaan anaknya. Kemudian Umar mendatangkan anak itu untuk menceritakan kedurhakaannya terhadap bapaknya dan kelalaiannya terhadap hak-hak orang tuanya. Anak itu menjawab, ”wahai Amirul Mu’minin, bukankah anak juga mempunyai hak-hak yang harus diberikan oleh bapaknya?” Umar berkata, ”tentu.” anak bertanya, ”apakah itu wahai Amirul Mu’minin?” Umar menjawab, ”memilihkan ibunya memberikan nama yang baik kepadanya dan mengajarkan Al-Kitab (Al-Qur’an) kepadanya.” Anak berkata, ”wahai Amirul Mu’minin, sesungguhnya ayahku belum pernah melakukan salah satupun di antara semua itu. Adapun ibuku seorang bangsa Etiopia dari keturunan orang yang beragama Majusi, ayahku telah memberikan nama Ju’al (Kumbang Kelapa) kepadaku dan belum pernah mengajarkan satu hurufpun dari Al-Kitab”.
Kemudian Umar menoleh kepada laki-laki itu dan berkata, ”engkau telah datang kepadaku untuk mengadukan, bahwa anakmu telah berbuat durhaka kepadamu, padahal engkau telah mendurhakainya sebelum ia mendurhakai kamu, dan engkau telah berbuat buruk kepadanya sebelum ia berbuat buruk kepadamu. Demikian Umar telah menyalahkan laki-laki itu, ketika ia meremehkan pendidikan anaknya dan tidak memberikan keteladanan yang baik dalam sikap dan perbuatannya.
Seorang anak, bagaimana pun besarnya usaha yang dipersiapkan untuk kebaikannya, bagaimana pun sucinya fitrah, ia tidak akan mampu memenuhi prinsip-prinsip kebaikan dan pokok-pokok pendidikan utama, selama ia tidak melihat sang pendidik (orang tua) sebagai teladan dari nilai-nilai moral yang tinggi. mengingat orang tua adalah seorang figur terbaik dalam pandangan anak, yang tindak tanduknya dan sopan santunnya dalam berinteraksi, disadari atau tidak akan ditiru oleh anak. Atas dasar itu, masalah keteladanan menjadi faktor penting dalam mempersiapkan dan menentukan baik-buruknya anak. Karenanya adalah suatu keharusan bagi orang tua menunjukkan keteladanan dalam berinteraksi dengan anaknya. (*)

Baca Juga :  Tantangan Tidak Berbicara

Pegawai Kanwil Kemenag Prov. Sumsel

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!