Usai Bupati Ngada Ditahan, Penyuapnya Tiba di KPK

Wihelmus Iwan Ulumbu saat tiba di KPK Jakarta, Senin (12/2). (Issak Ramadhan/JawaPos.com)

Usai Bupati Kabupaten Ngadah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Marianus Sae dibawa ke Rutan kelas 1 Cabang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), selang beberapa menit penyuap Marianus, Wihelmus Iwan Ulumbu dan Pegawai Bank BNI Cabang Bajawa Petrus Pedulewari (PP) tiba di gedung KPK.

Berdasarkan pantuaan JawaPos.com, Wilhelmus dan Petrus yang datang sekitar pukul 17.10 WIB tampak didampingi oleh beberapa petugas KPK. Saat dicecar soal alasan menyuap sang bupati, Wilhelmus diam seribu bahasa. Begitu juga dengan Petrus.

Kini keduanya tengah menjalani pemeriksaan lanjutan, setelah sebelumnya dilakukan pemeriksaan intensif di Polres Ngada, Provinsi NTT.

Petrus Pedulewari
Petrus Pedulewari saat tiba di KPK Jakarta, Senin (12/2) kemarin. (Issak Ramadhan/JawaPos.com)

Sebelum kedatangan mereka, pihak KPK membebaskan dua saksi yang diamankan di dua tempat berbeda. Mereka ialah Ketua Tim Penguji Priskotes Calon Gubernur NTT Ambrosia Tirta Santi (ATS) dan Ajudan Bupati Dionesisu Kila (DK).

Saat keluar dari gedung KPK sekitar pukul 16:50 WIB, Ambrosia (ATS) yang keluar didampingi seorang wanita, tampak menghindar dari awak media dan memilih berjalan cepat untuk menghindari cecaran pertanyaan yang hendak dilontarkan para kuli tinta. Hal senada juga dilakukan Dionesisu Kila.

Sebelumnya, KPK menetapkan Bupati Ngada Marianus Sae dan Dirut PT Sinar 99 Permai, Wilhelmus Iwan Ulumbu sebagai tersangka.

“Setelah melakukan pemeriksaan 1×24 jam dilanjutkan gelar perkara, disimpulkan adanya dugaan tindak pidana korupsi memberikan atau menerima hadiah atau janji kepada Bupati Ngada terkait proyek-proyek di Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur,” terang Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan, dalam konferensi pers di kantornya, Senin (12/2).

Marianus diduga menerima suap dari Wilhelmus terkait sejumlah proyek di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Wilhelmus diketahui merupakan salah satu kontraktor di Kabupaten Ngada yang kerap mendapatkan proyek di Kabupaten Ngada sejak tahun 2011.

Atas perbuatanya sebagai pihak pemberi suap, Wilhelmus disangka melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 UU No.31 Tahun 1999 sebagaiman diubah dengan UU No.20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Korupsi.

Sementara sebagai pihak penerima suap, Marianus disangka melanggar Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 UU No.31 Tahun 1999 sebagaiman diubah dengan UU No.20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Korupsi.

(ipp/JPC)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!