Usut Pungli, Pejabat Lapas Dicopot

TERKENDALI: Suasana di dalam Lapas Narkotika Kelas III Palembang yang kembali kondusif pascarusuh dua hari lalu. Para napi menjalani aktivitas seperti biasa. Foto:akda/Sumatera Ekspres

BANYUASIN – Tindakan tegas dan cepat diambil Kanwil KemenkumHAM Sumsel. Oknum pejabat Lapas Narkotika kelas III Palembang yang diduga melakukan pungli dan intimidasi telah disanksi. SF, dicopot dari jabatannya sebagai kepala regu.
“Dia dibebastugaskan sementara waktu. Dalam waktu dekat akan kami panggil yang bersangkutan ke Kanwil untuk diambil tindakan selanjutnya,” ungkap Kepala Divisi Pemasyarakatan (Kadivpas) Kanwil KemenkumHAM Sumsel, Zulkifli B. Penegasan itu disampaikannya ketika mendampingi Ketua Ombudsman Sumsel Indra Zuardi ke lapas di Serong, Sukomoro, Banyuasin, Sumsel tersebut, kemarin.
Dua tahanan pendamping (tamping), TF dan FR yang diduga anak buah SF dipindahkan ke Lapas Merah Mata. “Kalau di sini, dikhawatirkan akan terjadi sesuatu,” imbuhnya. Sementara itu, empat pegawai lapas yang bertugas pada saat kejadian, Kamis malam telah diperiksa oleh pihak Polres Banyuasin.
Pantauan koran ini kemarin, sehari pascarusuh, kondisi di Lapas Narkotika kelas III Palembang kembali kondusif. Sebanyak 663 narapidana (napi) sudah beraktivitas seperti biasa. Para pegawai dibantu sejumlah napi memperbaiki kaca dan fasilitas lain yang rusak akibat kejadian dua hari lalu.
“Alhamdulillah sudah kembali normal,” tutur Zulkifli. Dia menambahkan, para napi terpaksa berontak karena sebetulnya mereka ingin berkomunikasi terhadap banyak persoalan yang mereka alami. Tidak hanya soal dugaan pungli, tapi juga kebutuhan air bersih, handphone (Hp) untuk komunikasi dan lainnya.
Tuntutan agar para napi diperbolehkan menggunakan Hp sulit untuk dipenuhi mengingat aturannya alat komunikasi dilarang masuk ke rutan atau lapas. “Paling, kami perkenankan mereka menelepon dari wartel yang sudah tersedia di dalam lapas. Halinar (handphone, pungli dan narkoba) dilarang keras,” jelasnya.
Agar kejadian serupa tidak terulang, Kanwil akan memberantas pungli di semua cabrutan, rutan dan lapas di Sumsel. “Ini sesuai instruksi presiden,” tegasnya. Jika sampai masih ada keluhan pungli dari masyarakat atau napi, petugas terkait dipastikan akan diproses sesuai aturan berlaku.
Untuk pengamanan Lapas Narkotika kelas III Palembang pascakejadian, ada perubahan sistem. Dibagi tiga sift jaga, masing-masing dengan empat personel. Ketua Ombudsman Sumsel, Indra Zuardi, kemarin menyambangi lapas tersebut. ”Kami datang untuk memantau kondisi terakhir pascakejadian kemarin (dua hari lalu). Datanya akan kami teruskan kepada Ombudsman pusat,” ujarnya. Salah satu yang ingin dipastikan pihaknya, pelayanan di lapas lebih baik.
“Jangan ada lagi pungli dan intimidasi seperti yang dikeluhkan para napi dan tahanan,” katanya. Kepala Lapas Narkotika Kelas III Palembang, Reza Yudistira Kurniawan AMD IP SH MSi bersyukur, kondisi di lapas yang ia pimpin sudah kembali normal. Para napi telah menjalankan aktivitas di wisma masing-masing seperti biasa.
“Untuk kerusakan yang ada dalam perbaikan,” ucapnya. Dia membenarkan, stafnya yang berinisial SF telah dibebastugaskan dari jabatannya sebagai kepala regu keamanan. Sanksi itu diberikan langsung oleh Kanwil KemenkumHAM.
“Bahkan dia sudah tidak bertugas di sini lagi. Khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan,” beber Reza. Kapolres Banyuasin AKBP Andri Sudarmadi SIK berjanji akan mengusut tuntas dugaan pungli yang mencuat di Lapas Narkotika kelas III Palembang. Pihaknya sudah mendapatkan data awal indikasi tersebut. “Ini sudah jadi atensi kami,” tegasnya.
Untuk keamanan, meski kondisi di lapas sudah kondusif, tapi pihaknya tetap menyiagakan personel. ”Tidak hanya dari kepolisian, dari TNI juga disiagakan di lokasi untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan,” imbuh Andri.
Diwartakan sebelumnya, akibat sering menjadi korban pungli dan intimidasi oknum petugas dan tamping, ratusan napi di Lapas Narkotika kelas III Palembang memberontak. Dalam kejadian dua hari lalu itu, mereka tak hanya membobol pintu-pintu wisma, tapi juga memecahkan kaca kantor, membakar kasur dan ompreng (wadah makan). Beruntung, sebelum 663 napi itu keluar dari gerbang terdepan, petugas keamanan tiba di lokasi dan berhasil menenangkan mereka.
Di bagian lain, keributan juga terjadi di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas II B Malebero, Kota Bengkulu, Jumat (7/7) pagi. Dua orang tahanan terluka, setelah dikeroyok oleh tujuh orang lainnya. Kesembilan orang itu, hingga tadi malam masih menjalani pemeriksaan oleh Satreskrim Polres Bengkulu.
‘’Kita lihat besok (hari ini, red) bagaimana perkembangannya. Kalau malam ini (tadi malam, red) kita pastikan belum akan dikembalikan ke rutan,’’ kata Kapolres Bengkulu AKBP Ady Savart PS, SH SIK, melalui Kasat Reskrim AKP Rooy Noor SIK.
Kedua tahanan yang jadi korban, Wiky Aldri (29) yang merupakan tahanan kasus 363 KUHP dan Koko Irawan (21) tahanan dalam kasus 362 KUHP. Sedangkan 7 orang yang diduga pelaku pengeroyokan, masing-masing Candra alias Can (33) tahanan kasus kepemilikan sajam, Merli alias Li (28) tahanan kasus 363, Riken Valerio (18) tahanan kasus 365, Siregar Alam alias Lego (31) tahanan kasus 363, Endrik Kelvin (26) tahanan kasus 363, Virgo Praditya (18) tahanan kasus 170, dan Yandri Irawan (22) tahanan kasus 365.
Kata Rooy, korban Wiki mengalami luka di perut dan korban Koko mengalami luka di bagian bibir. Namun keduanya dalam kondisi normal dan bisa menjalani pemeriksaan, setelah mendapatkan perawatan medis usai kejadian ricuh. ‘’Lukanya tidak parah dan sekarang keduanya dalam kondisi baik,” terang Rooy.
Diakui Rooy, mereka masih belum bisa mengambil kesimpulan terkait siapa yang melukai korban Wiky dan yang melukai korban Koko. Para pelaku mengaku tidak tahu secara pasti siapa yang menusuk atau melukai perut dan memukulkan batu ke bibir korban, seperti yang diinformasikan awal kericuhan. ‘’Mereka (para pelaku, red) sejauh ini mengaku hanya spontanitas ikut-ikutan saja karena sesama teman tahanan,’’ imbuh Rooy.
Sementara itu, dari data yang dihimpun di lapangan, kronologis kejadian, diawali Wiky sedang berada di depan Blok Napi Narkoba Rumah Tahan (Rutan) Kelas II B Malebero Kota Bengkulu. Selanjutnya datang Koko bermaksud meminta rokok kepada Wiky.
Saat bersamaan di depan Blok Narkoba, juga sedang ada Candra alias Can (33) bersama para pelaku lain. Diduga saat berjalan menuju Wiky, Koko tidak sengaja menyenggol kaki dari Candra sehingga membuat Candra marah dan menantang Koko. Selanjutnya terjadilah cekcok mulut antara Candra dan Koko.
Candra yang emosi, langsung mendekati Koko sembari mencekik leher Koko dengan diikuti 6 orang lainnya, Merli, Riken, Siregar Alam alias Lego, Endrik Kelvin, Virgo Praditya (18), dan Yandri Irawan. Wiky mencoba menarik Koko dengan maksud untuk melerai.
Namun tanpa diduga, Wiky ikut menjadi sasaran salah satu pelaku yang menusukkan diduga jepit kuku ke arah perutnya sehingga mengeluarkan darah. Tidak hanya itu, salah satu pelaku juga sempat memukulkan batu ke arah bibir korban Wiky sehingga berdarah.
Untung saja, kondisi tersebut bisa langsung dilerai seiring anggota Polsek Teluk Segara dan Polres Bengkulu datang melakukan pengamanan di lokasi. Para pelaku langsung diamankan dan korban selanjutnya dibawa ke RS Bhayangkara untuk mendapatkan perawatan.
Tidak lama berselang atau pukul 11.00 WIB pasukan Brimob dan Sabhara Polda Bengkulu sampai untuk melakukan antisipasi keributan berkembang. Diiringi dengan kedatangan rombongan Kapolda dan pejabat jajaran Polda Bengkulu.
‘’Kita bersama Kanwil Kemenkumham ikut datang ke sini (rutan, red) dalam rangka untuk mengantisipasi. Namun saat ini (kemarin, red) sudah kita amankan 7 orang yang diduga pelaku dan 2 orang korban,” kata Kapolda Bengkulu Brigjen Pol Coki Manurung saat sampai di Rutan Malebero.
Menurutnya, korban sudah mendapatkan perawatan medis di rumah sakit. Ini cuma masalah salah tanggap saja dan tidak ada masalah lain. Soal luka, itu bukan penikaman, hanya gunting kuku. Dan barang buktinya, termasuk batu juga sudah kita amankan. “Untuk sementara, kita tetap siagakan dulu anggota untuk mengantisipasi segala kemungkinan,’’ terangnya.
Sementara itu, Kepala Kanwil Kemenkumham Bengkulu Drs Liberti Sitinjak, MM, M.Si yang mendampingi Kapolda menegaskan, kejadian di Rutan Malebero kemarin bukanlah kerusuhan. Namun hal tersebut hanyalah perkelahian antara 7 orang melawan 2 orang yang bermula dari kesalahpahaman saja.
‘’Jadi ini hanya sebuah kesalahpahaman saja. Namun kita bersama pak Kapolda tidak mau ini berlanjut sehingga kita siaga saja,’’ singkat Liberti. (qda/dtk/air/ce2)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!