Visual, Gajah Tidak Ada Indikasi Diracun

MUARADUA – Kematian gajah di Desa Kota Dalam, Kecamatan Mekakau Ilir, masih menjadi tanya. Apalagi, matinya gajah di perkebunan warga itu dalam keadaan mulut berdarah. Banyak dugaan ada oknum sengaja mengambil gading gajah untuk keuntungan pribadi.

Namun, pernyataan berbeda justru disampaikan Kepala Dinas Pertanian OKU Selatan, Ir Asep Sudarno MSi. “Dalam proses autopsi, tim BKSDA sudah melakukan identifikasi. Ternyata, gajah itu berjenis kelamin betina. Tak ada gading, yang hilang caling (sejenis suing gajah), diperkirakan beratnya 3 ons,” terang Asep Sudarno yang ikut dalam proses autopsi di lapangan.

Gajah tersebut diperkirakan berusia 15 tahun. Merupakan gajah tunggal. Gajah ini tidak termasuk kawanan gajah yang sering masuk ke permukiman warga. ‘’Diperkirakan gajah naas tersebut merupakan kawanan gajah yang terlepas dari Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS),’’ ujarnya.

Dikatakan, hasil autopsi secara visual, tak ada tanda gajah itu mati keracunan. ‘’Namun untuk lebih terangnya, harus menunggu hasil uji labor,” terangnya.

Sumber koran ini di lapangan menyebutkan, ada dugaan gajah tersebut mati terkena setrum yang dipasang warga untuk membasmi hama babi. Jika benar begitu, ini artinya ada unsur kelalaian yang bisa mengarah si pelaku dijerat dengan KUHP. Namun untuk kebenarannya, masih harus menunggu penyelidikan pihak kepolisian. (dwa/ce3)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!