Vonis Ringan Otak Pembunuhan

Dimas Kanjeng saat menjalani sidang vonis di PN Probolinggo, kemarin (1/8). Foto: JPG

PROBOLINGGO – Episode panjang kasus pembunuhan Abdul Gani, eks sultan padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi, memasuki klimaksnya kemarin (1/8). Orang yang dianggap paling bertanggung jawab atas kematian Gani, yakni Dimas Kanjeng Taat Pribadi, akhirnya divonis bersalah dan harus mendekam di balik jeruji besi selama 18 tahun.
Dimas Kanjeng Taat Pribadi, pemilik padepokan dengan nama yang sama, memang sudah dijatuhi vonis oleh majelis hakim. Namun, putusan itu jauh di bawah tuntutan yang diajukan jaksa penuntut umum (JPU). Di mana JPU menuntut Taat –sapaan akrab Dimas Kanjeng Taat Pribadi– dengan hukuman seumur hidup.
Dalam amar putusan setebal 100 halaman yang dibacakan Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Kraksaan Basuki Wiyono bersama dua anggotanya, Yudistira Alfian dan Mohammad Syafruddin, Taat Pribadi dinyatakan bersalah melakukan tindak pidana pembunuhan berencana.
Berdasar pantauan, persidangan kemarin mendapatkan pengamanan ekstraketat dari aparat kepolisian. Sejak pukul 07.00, ratusan personel Polres Probolinggo dibantu TNI mulai standby di setiap ring pengamanan.
Meliputi, ring 4, yakni pengamanan di tepi jalan depan PN Kraksaan; ring 3 di halaman kantor PN; ring 2 dalam gedung PN, tapi di luar ruang sidang; dan ring 1 di dalam Ruang Sidang Kartika. Untuk memasuki kawasan PN, setiap pengunjung tidak luput dari pemeriksaan.
Puluhan pengikut Taat berdatangan ke PN sejak pukul 08.00. Ada yang memilih menunggu kedatangan Taat di halaman pintu gerbang PN, ada pula yang menunggu di dalam gedung PN. Namun, tidak tampak keluarga terdakwa, baik istri maupun anak-anaknya.
Bukan hanya keluarga, sosok Marwah Daud yang selama ini selalu terlihat mendampingi Taat juga tak terlihat. Taat tiba di PN Kraksaan sekitar pukul 09.55. Dia menyunggingkan senyum pada setiap pengunjung maupun awak media yang telah menunggunya sedari pagi.
Dengan pengawalan ekstraketat, Taat digiring ke ruang tahanan PN. Tidak seperti sidang-sidang sebelumnya, kemarin tidak ada para pengikut yang menunggu di dekat ruangan tahanan PN. “Sehat, saya siap,” kata Taat sembari masuk ke ruang tahanan PN.
Sekitar pukul 10.20, Taat masuk ke ruang sidang dengan pengawalan ketat. Di dalam ruang sidang, majelis hakim, JPU, dan penasihat hukum (PH) terdakwa juga sudah siap. JPU yang hadir adalah Muhammad Usman, Tjahyo Aditomo selaku Aspidum kejati, Hari Basuki, Nugroho, Novan, dan Nizar. Terlihat pula Muhammad Sholeh dan rekan-rekannya selaku PH terdakwa.
Ketua Majelis Hakim Basuki Wiyono tak membacakan semua isi amar putusan itu, tetapi hanya poin-poinnya. Majelis hakim mengatakan, putusan Taat sudah mempertimbangkan fakta persidangan. Mulai dakwaan yang diajukan JPU sampai eksepsi yang diajukan terdakwa. Termasuk keterangan 26 saksi yang dihadirkan. ‘Menimbang, unsur menghilangkan nyawa orang lain terpenuhi. Serta, ada penyerahan uang Rp130 juta dari terdakwa Taat Pribadi kepada para pelaku pembunuhan. Terdakwa Taat Pribadi terbukti bersalah secara sah dan meyakinkan melanggar hukum sebagaimana pasal 340 KUHP juncto 55 KUHP,” jelasnya. Begitu vonis dibacakan, seisi ruangan langsung riuh beberapa saat.
Perihal yang memberatkan terdakwa, di antaranya, tidak mengakui dan tidak menyesali perbuatannya; perbuatan terdakwa mengakibatkan kesedihan dan penderitaan yang mendalam bagi keluarga korban; serta tidak adanya pemberian maaf dari keluarga korban.
Selama majelis hakim membacakan amar putusan tersebut, beberapa kali Taat menunduk. Saat mendengarkan putusan, terkadang dia menegakkan kepala menghadap majelis hakim. Terdakwa yang mengenakan sepatu kulit merah tua itu juga sempat tujuh kali menggoyang-goyangkan kursinya ke kanan dan kiri.
Sesekali, pria asal Dusun Cengkelek, Desa Wangkal Gading, Kecamatan Gading, tersebut mematahkan lehernya ke kanan dan kiri. Terdakwa yang memakai batik kuning motif bunga merah itu juga sempat memperbaiki lengan kemejanya. Serta mengusap bagian wajahnya seperti mulut ke dagu dan mata.
Sesuai dengan amar putusan yang dibacakan, majelis hakim memberikan kesempatan kepada terdakwa sesuai dengan perintah undang-undang, yakni boleh menerima, mengajukan banding, atau pikir-pikir. Kesempatan yang sama berlaku untuk JPU. (mas/rf/c25/agm)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!