Walikota Surabaya Temui 59 Pelajar SMP yang Menyilet Tubuhnya

SURABAYA – Wali Kota Tri Rismaharini turun tangan begitu mengetahui adanya 56 pelajar SMP Negeri 56 Surabaya yang menyileti tubuh mereka sendiri. Para murid dikumpulkan di lapangan basket sekolah di Jalan Raya Dukuh Kupang itu.

Turut datang dalam acara tersebut Ketua DPRD Armuji dan tiga pilar Kecamatan Dukuh Pakis.

Selain itu, ada Kadispendik Surabaya Ikhsan yang membawa tim konseling dari dinas pengendalian penduduk, pemberdayaan perempuan, dan perlindungan anak (DP5A) dan dinas kesehatan.

Risma meminta para pelajar itu untuk menjadi generasi yang kuat Tidak mudah terjatuh oleh deraan masalah.

Setiap masalah semestinya dikomunikasikan dengan guru. “Sampaikan ke guru BK. Jadi pelajar jangan pantang menyerah. Kalau jatuh, bangkit lagi,” ucapnya.

Risma menambahkan, permasalahan yang dialami pelajar SMPN 56 Surabaya begitu kompleks. Sebagian besar melakukannya karena mengikuti Blue Whale Challenge.

Itu adalah tantangan yang tersebar di media sosial. Meminta pelakunya untuk melukai tubuh dengan benda tajam hingga membentuk pola gambar tertentu.

Selain itu, Risma menyebut anak-anak itu banyak dipengaruhi oleh lingkungan. Umumnya, mereka tinggal di kawasan eks lokalisasi Dolly.

Saat tempat tersebut masih beroperasi, berbagai hal buruk mereka terima sehingga turut memengaruhi pola pikir.

“Makanya cara saya melindungi anak-anak ini ya dengan menutup lokalisasi itu,” ujar Risma.

Dia ingin mengajak anak-anak tersebut berkunjung ke UPTD Ponsos di Villa Kalijudan Indah. Itu adalah panti tempat anak-anak berkebutuhan khusus yang dibiayai pemkot.

“Besok saya ajak. Biar kalian tahu rasa bersyukur. Supaya tidak mudah mengambil jalan pintas,” ujar Risma.

Kadispendik Ikhsan menyampaikan, pihaknya terus melakukan konseling dengan para pelajar itu.

Jika diketahui ada yang mengalami trauma, akan diambil tindak lanjut. Problem masing-masing pelajar juga diinventarisasi.

Apabila diperlukan, pihaknya siap menggandeng dinas-dinas lainnya.

“Misalnya, ada anak yang menyileti tubuh karena sedih tidak punya biaya untuk pengobatan ayahnya yang stroke. Nanti kami koordinasi dengan dinkes,” kata Ikhsan.

Kasus itu diketahui saat beberapa pelajar kelas VII hendak menunaikan salat Duhur di sekolah.

Pelajar lain yang melihat bekas siletan tersebut lantas melapor kepada guru yang kemudian melapor ke polisi.

Pihak sekolah tidak mau memberikan komentar. Mereka menyerahkan semua statement kepada Ikhsan. (zam/c6/ayi/jpnn)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!