Wiwid Tiga Kali Pindah Indekos

Asworo dan Wiwid yang berencana menikah pada 5 September nanti. Foto: ist

Sebelum ditemukan tak bernyawa di Jl Sedapat, Soak Simpur, Sukarami, Palembang, Chatarina Wiedyawati (30) atau yang akrab disapa Wiwid meninggalkan sejumlah firasat. Mulai dari pesan gaun pre-wedding warna merah, tempat tidur dan sejumlah hal ganjil lain.
—————-
Sebuah rumah bercat merah muda di Jalan Bukit Barisan, Kelurahan Muara Dua, Kecamatan Prabumulih Timur tampak sepi. Hanya ada dua orang yang sedang duduk mengobrol di teras. Mereka adalah Bude dan Nt. Keduanya merupakan rekan terdekat Wiwid.

Tak lama kemudian, seorang lelaki keluar setelah dibangunkan oleh Nt.
Dialah Im, anak dari Ir, buruh cuci yang sudah dianggap Wiwid sebagai orang tuanya sendiri. Keluarga ini sangat dekat dengan korban. Hampir setiap hari korban main ke rumah berukuran 10×12 m tersebut. Saking dekatnya, Wiwid sering meminta Ir untuk memasak makanan untuknya.

“Kalau dia (Wiwid, red) sering main ke sini. Sudah seperti rumah sendiri. Kadang sering manja-manjaan sama mamak,” ujar Im. Makanan favorit yang sering diminta Wiwid yaitu sambal tempoyak, ikan asin, dan tumis genjer. “Kalau minta dimasakin, ya tiga makanan itu saja. Tidak mau yang mewah-mewah. Katanya masakan ibu tak kalah dengan masakan restoran,” ungkapnya.

Baca Juga :  Dicegat Polisi, Pemilik Sabu Buang BB

Im mengatakan, keluarganya sudah menganggap Wiwid bagian dari keluarga. Bahkan, saat Wiwid memerlukan uang dan membutuhkan pinjaman, sering meminta tolong ayah Im menggadaikan motornya ke leasing.

“Sudah tiga kali, Wiwid meminta ayah saya menggadaikan motornya ke leasing dan pakai nama ayah saya. Terakhir baru dua bulan yang lalu, dia meminjam uang lagi Rp6 juta untuk keperluannya menikah,” tutur Im.

Selain itu, uang tersebut katanya untuk beli kasur persiapannya menikah. Im menceritakan, ibunya, Ir, nyaris pingsan dan menangis sejadi-jadinya saat tahu Wiwid meninggal.

“Ibu sangat shock. Kalau ingat Wiwid, air matanya sering keluar sendiri. Soalnya sudah dianggap anaknya,” tuturnya. Im mengatakan, Wiwid terakhir kali pergi Sabtu (6/5) sekitar pukul 18.30 WIB, sehabis azan Magrib. Dia menitipkan motor Honda Beat warna putih miliknya ke rumah Im. Pamit mau pergi ke Yogyakarta untuk pre-wedding.

“Di luar rumah, cowoknya sudah menunggu dalam mobil. Tapi tidak turun. Itulah perjumpaan terakhir kami dengan Wiwid,” ungkapnya. Bude, tukang urut tradisional yang sering diminta Wiwid mengurut dirinya tahu kabar tewasnya sang gadis dari pelanggannya yang lain.

Warga Kelurahan Karang Jaya, Kecamatan Prabumulih Timur ini sudah mengenal korban sejak tiga tahun yang lalu. “Saya ke sini membangunkan Nt untuk tahu cerita terbunuhnya Wiwid,” ujarnya.

Baca Juga :  Ini Denda Telat Melapor SPT

Menurut Bude, korban merupakan orang yang periang. Pertemuannya dengan korban intens dilakukan di rumah Nt. “Saya sering ke sini dan mengenal Wiwid. Dia sering minta urut sama saya. Katanya mau gemuk. Soalnya dia tidak mau kerempeng saat naik pelaminan,” ucapnya.

Tak hanya periang, Budi mengenal Wiwid sosok pekerja keras. Wiwid sering bercerita kalau dirinya harus mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk biaya pernikahan. Yang paling diingat dari Wiwied, korban menginginkan kostum atau gaun pengantinnya berwarna merah.

“Saya tanya kenapa merah, dia jawab tidak tahu. Hanya maunya merah. Saya lalu bilang kalau merah tidak bagus. Ternyata kejadian seperti ini,” kenangnya. Gaun merah itu pula yang ikut dikubur bersama Wiwid. Bude juga menuturkan Wiwid sudah tiga kali pindah tempat indekos.

Pertama di Jalan Bukit Barisan, Kelurahan Muara Dua, Kecamatan Prabumulih Timur. Di tempat ini pertama kali Wiwid kenal dengan keluarga Ir. Kemudian pindah indekos bersama teman sekantornya di dekat RS Bunda Jalan Angkatan 45, Kelurahan Gunung Ibul Barat, Kecamatan Prabumulih Timur. “Terakhir katanya pindah ke belakang tempat biliar Venus,” bebernya.

Bude, Im, dan Nt berharap kasus tewasnya Wiwid bisa segera diungkap polisi dan pelaku cepat tertangkap. “Kami ingin pelakunya dihukum seberat mungkin. Kalau bisa hukuman mati,” pungkasnya. (kos/ce2)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!