Yakin Tak Mau Jadi Penonton

Sebagai tuan rumah Asian Games XVIII 2018, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) berpartisipasi aktif. Ada 17 atlet andalan Bumi Sriwijaya yang kini ikut pelatnas. Bagaimana persiapan dan target mereka?
————————————————-

Sekitar 120 hari lagi, Asian Games XVIII digelar.
Tepatnya 18 Agustus-2 September 2018. Sebanyak 17 atlet Sumsel yang masuk dalam 1.200 atlet pilihan sedang menempa diri.
Mereka ada yang ikut pemusatan latihan nasional (pelatnas) di Bulgaria dan juga Amerika Serikat. Kerja keras ini demi meraih medali dan berdiri di atas podium.
Beberapa atlet yang ikut persaingan untuk mewakili Sumsel itu Rio Maholtra di cabang olahraga (cabor) atletik, Sri Wahyuni untuk dayung, Ronald Lumban Gaol gulat, dan Jauhari Johan untuk triathlon.
Rio Maholtra, pelari asal Lahat, Sumsel, akan turun di nomor lari gawang 110 meter putra. “Saya target emas untuk Indonesia. Jangan sampai Sumsel sebagai tuan rumah hanya jadi penonton,” katanya.
Secara pribadi, dia ingin pecahkan rekor nasional lagi Sebelumnya Rio pernah menorehkan rekor nasional pada PON 2016 di Jabar dengan torehan waktu 14,08 detik.
Atlet didikan Kadir Sani itu juga sukses memecahkan rekor nasional di nomor lari gawang 60 meter saat berlaga dalam IAAF World Indoor Championship 2018 di Birmingham, Inggris, (3/3) lalu dengan catatan waktu 7,98 detik. Lebih cepat dari rekor nasional sebelumnya, yakni 8,15 detik, yang diciptakan di Cina pada 2014.
“Best time saya masih 14,08 detik. Untuk rekor Asia belum berubah 13,20 detik. Perkembangan baik sesuai program dari persiapan awal tahun. Yang pasti saya fokus pada persiapan sendiri belum mikir calon-calon kompetitor,” terang peraih medali emas PON XIII 2016 Jawa Barat tersebut.
Untuk mengejar target dan mengasah kemampuannya, Rio kini sedang “berguru” di Amerika Serikat. Selama sebulan sejak 1 April lalu dia mengikuti training center bersama 12 atlet atletik terbaik Tanah Air lain. Mereka adalah Atjong Tio Purwanto, Bayu Kartanegara, Eki Febri Ekawati, Eko Rimbawan, Emilia Nova, Fadlin Ahmad, Idan Fauzan Richsan, Lalu Muhammad Zohri, Maria Natalia Londa, Sapwaturrahman, Suwandi Wijaya, dan Yaspi Boby.
“Di sini (Amerika) memiliki standar yang tinggi dalam cabor atletik. Kita punya motivasi tinggi dan optimistis bisa lebih baik. Di sini kita berlatih dengan pelatih AS, Harry Marra,” tambah pemuda yang juga anggota Paspampres era Presiden SBY ini.
Bagaimana dengan menu latihan di negara yang dipimpin Donald Trump tersebut? “Kendala pertama cuaca. Sekarang musim dingin rata-rata 7 derajat celsius. Di samping itu anginnya juga sangat deras. Tapi kami diuntungkan bisa bertemu teman-teman sparing partner dari Universitas California, yang levelnya dunia,” tegas dia.
Terpisah, Kadir Sani, pelatih atletik Sumsel mengaku bangga bisa menyertakan satu atlet ke Asian Games. “Kita yakin Rio akan meraih medali. Karena saya tahu Rio anaknya sangat optimistis dan pekerja keras,” terang Kadir, sapaan guru olahraga di salah satu SD Negeri di Banyuasin ini.
Menurut Kadir, bakat Rio memang sudah terlihat saat masih junior. Selain memiliki postur tubuh ideal, Rio juga terkenal sebagai atlet yang mandiri dan ulet. “Dia juga masuk tentara (TNI) dari jalur prestasi. Ya, mudah-mudahan pada Asian Games nanti bisa bikin bangga Indonesia dan Sumsel khususnya,” tukas dia.
Sementara, Sri Wahyuni, atlet dayung Asian Games asal Palembang ogah minder walaupun harus melawan atlet-atlet jebolan kelas dunia. “Kalau lihat pesaing, mungkin bisa buat mental drop. Tapi karena ini di Palembang, kita pasti mati-matian ingin memberikan prestasi terbaik bagi Sumsel. Ingin sekali mengharumkan nama daerah kita sendiri,” ungkap dia kepada Sumatera Ekspres, kemarin (22/4).
Yuni, sapaan akrab atlet peraih emas di PON Jabar tahun 2016 ini mengakui jika menggapai itu tentu berat sekali. “Makanya sekarang saya melakukan persiapan yang lebih keras, jauh dari beberapa tahun sebelumnya,” ungkapnya. Saat ini, Wahyuni mengikuti pelatihan nasional (pelatnas) di Bandung. Tapi sebelumnya, sekitar November-Januari dia mengikuti training camp di Tiongkok sebagai salah satu tempat jawaranya atlet dunia cabor dayung.
Selepas dari itu, dia juga sempat mengikuti training kejuaran Sidney Internasional Rowing Regatta di Australia dan mendapat posisi juara keempat. “Bulan April ini saya kembali dijadwalkan mengikuti training camp ke Belanda selama dua bulan. Plus langsung lanjut ke Korea untuk mengikuti kejuaraan internasional lagi,” sebutnya.
Mudah-mudahan, kata dia, pengalamanan yang didapat akan membawa rezeki saat bertanding di Palembang nanti. Selama ini, dia sendiri sudah langganan mengikuti kejuaran internasional. Di Asian Games, keikutsertaannya di Palembang nanti yang kedua kali. Sayangnya, di Asian Games pertama 2014, meski dia dinyatakan lolos ikut serta, Yuni terpaksa gugur duluan lantaran mendadak terserang sakit tifus jelang hari H.
“Jadi yang kedua kali ini lebih termotivasi lagi. Kalau bisa membalas kegagalan ikut serta yang pertama,” ungkapnya. Karena sebelumnya, Yuni sempat mau pensiun karena usianya tak muda lagi, sekarang sudah 27 tahun. “Tetapi karena dengar kejuaran Asian Games di Palembang, rencana itu aku mundurkan,” ungkapnya tertawa. Walau kemungkinan keikutsertaan kejuaraan internasional dirinya kali ini yang terakhir sebelum pensiun.
Lalu bagaimana target medali?” Sekali lagi Wahyuni ogah sesumbar, meskipun dirinya masuk tim Inti Garuda. “Persaingan di Asian Games akan berbeda dari yang lain. Pesaing berat tetap tiga, yakni Tiongkok sebagai juara dunia, Jepang, dan Iran,” terangnya. Incaran Yuni paling tidak harus masuk tiga besar dulu. Kalau pun untuk emas, itu sudah rezeki besar sekali. Dia pun berharap nanti mendapat dukungan penuh dari seluruh penonton, karena ini akan memberikan motivasi mental lebih bagi atlet. “Insya Allah mudah-mudahan jadi yang terbaik,” ungkapnya.
Tak hanya Sri, kegigihan menang di cabor gulat juga jadi tekad Ronald Lumban. Apalagi baginya, ini pertama kali masuk pelatnas dan langsung turun di ajang sebesar Asian Games. Ekspektasi untuk menujukkan kemampuan di gaya bebas putera sangat besar. “Tapi kalau bicara target medali saya belum bisa, karena ini perdana saya masuk skuad timnas gulat,” ucap Ronald yang sedang melakukan perjalanan ke Bulgaria untuk melakukan tryout ini.
Hanya saja, dia mengaku akan berjuang untuk Indonesia dengan gigih dan pantang menyerah. “Karena beladiri gulat ini bukan olahraga terukur, apapun semuanya bisa terjadi,” imbuhnya. Iming-iming kenaikan bonus dari pemerintah pusat, diakuinya, semakin mendidihkan semangatnya bertarung di Asian Games. Atlet pun akan terpacu memberikan yang terbaik.
“Seharusnya pemerintah daerah juga memberikan dukungan ke atletnya, misal menambah uang saku atlet. Bahkan bila perlu memberikan bonus juga bagi atlet yang dapat medali,” ungkap peraih medali perak cabor gulat di PON XIX Jabar 2016 ini. Dia berharap kalau dapat medali bisa dikasih rumah atau dapat beasiswa.
Menurutnya, pemda juga perlu memantau atletnya yang masuk pelatnas karena merekalah atlet andalan untuk ajang PON selanjutnya. “Perhatikan juga kesejahteraannya. Jangan sampai habis jadi atlet, tak diberdayakan lagi sehingga jadi pengangguran,” terangnya.
Di cabor triathlon, Jauhari Johan sendiri tak akan menyia-nyiakan kesempatan tampil di Asian Games 2018. Atlet asal Sumsel ini akan berusaha mencatatkan namanya sebagai peraih medali di cabor triathlon. Apalagi, multievent terbesar kedua setelah olimpiade ini dilaksanakan di Indonesia, dan Sumsel daerah asalnya salah satu tuan rumah.
“Saya baru di triathlon setelah SEA Games 2017. Tapi itu tidak menyurutkan saya berbuat maksimal di Asian Games. Target minimal perunggu,” ungkap Jojo, sapaan Jauhari, Minggu (22/4). Pelari jarak jauh ini mengakui, keyakinan mempersembahkan medali sangat kuat usai test event awal tahun 2018 di Palembang. Dengan sisa waktu lima bulan, cukup untuk mengejar ketertinggalan cacatan waktu 10 detik dari Jepang.
“Harapannya setelah test event bisa langsung fokus training centre, tapi kenyataannya malah persiapan berlangsung seadanya bersama tiga atlet triathlon lain. Jujur saja, kans itu kini menjadi agak menurun,” ujarnya. Selama menempa diri di Bandung, Jojo merogoh kocek sendiri untuk biayai latihan.
“Sementara perhatian Federasi Triathlon Indonesia juga belum maksimal. Padahal, Asian Games menyisakan waktu kurang dari empat bulan,” katanya. Karena itu, keyakinan mendapat medali harusnya juga didukung berbagai pihak. Tapi para atlet tetap masih memiliki semangat juang. “Kami akan fight apapun yang terjadi, karena kita tuan rumah,” pungkasnya. (ion/cj11/kmd/fad/ce1)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!