Belajar Otodidak, Beromzet Ratusan Juta

KERJA: M Edi Munandar mengawasi salahsatu pekerjanya yang sibuk membuat plat untuk advertising, kemarin. Foto: Eko/Sumatera Ekspres

Berani mengambil risiko menjadi kunci keberhasilan seorang pengusaha, seperti dialami M Edi Munandar (34). Dia memutuskan resign dari pekerjaannya sebagai pegawai toko buku untuk fokus ke dunia usaha percetakan. Keputusannya tepat, kini dia jadi bos PT Sriwijaya Grafika.
—————————-
Eko Prasetyo – Palembang
—————————
SUARA bising mesin gerinda terdengar saat wartawan koran ini menyambangi kantor PT Sriwijaya Grafika di Jalan Pertanian, Kelurahan Talang Jambe, Kecamatan Sukarami Palembang. Kantor perusahaan advertising dan percetakan ini berbentuk rumah berukuran 14×10 meter.
Di samping rumah dijadikan bengkel pembuatan reklame, rambu serta neon box. Karyawan yang bekerja sekitar 15 orang. Ada yang tengah mengelas plat, mengecat serta menghaluskan besi rangkaian plat. “Masuk Kak,” sapa pria tinggi berkulit agak gelap.
Dialah M Edi Munandar, pemilik sekaligus pengelola perusahaan percetakan tersebut. Masuk ke dalam kantor, berbagai contoh produk percetakan hasil karya perusahaannya langsung tersaji. Di ruang tengah, berderet 5 unit komputer serta mesin cetak spanduk. Melihat aset yang dimiliki, mungkin banyak yang tak mengira jika perusahaan ini dimulai dari skala kecil.
Usaha ini sudah dirintisnya sejak 2013. Awalnya, Edi fokus mencetak undangan, surah Yasin, majalah serta berbagai jenis produk percetakan kertas lainnya. Namun, persaingan yang ketat serta harga bahan produksi yang terus melambung membuat usahanya sempat tutup dua kali. “Kalau usaha ini sudah berjalan sekitar delapan tahun.Tadinya usaha ini sampingan saya. Sebab, saya masih bekerja di salah satu toko buku di Palembang sebagai petugas IT. Jadi, belum fokus benar,” kata Edi sembari menawarkan segelas kopi.
Ia menceritakan usahanya dimulai dari modal keahliannya mengoperasikan program autoshop dan Corel Draw. Tamatan SMK jurusan elektro ini belajar mengoperasikan program otodidak. Tak ada yang mengajarinya, ia hanya membuka dan mengetes satu demi satu control panel yang ada dalam program. “Kalau selesai kerja, saya iseng belajar satu demi satu fungsi dari panel-panel yang ada di program menggunakan komputer teman saya. Akhirnya, dengan sendirinya bisa,” terangnya.
Edi lalu mengumpulkan gajinya untuk membeli satu unit komputer. Maklum saja, ayahnya yang seorang buruh bangunan tidak sanggup membelikannya komputer. Tetapi, tekad Edi begitu kuat hingga akhirnya komputer pertamanya berhasil dibeli. Kemampuannya menguasai program terus diasah. Hingga akhirnya seluruh teknik mendesain gambar dikuasainya.
Ayah dua orang anak ini lalu membuka usaha sampingan percetakan. Sasarannya tetangga Edi di sekitar tempat tinggalnya. Dari mulut ke mulut, beberapa orderan mulai diterimanya. Ia mengingat orderan pertamanya mencetak undangan pernikahan tetangganya. “Semuanya saya kerjakan sendiri. Mulai dari mendesain hingga pencetakan. Pulang kerja saya lanjut lagi,” terangnya.
Banyaknya order serta didorong kebosanannya bekerja membuat Edi memutuskan untuk berhenti bekerja. “Sebenarnya sayang. Saya sudah 11 tahun kerja di toko buku. Tapi karena memang sudah bosan, saya putuskan berhenti bekerja,” ucapnya.
Keputusan tersebut praktis membuat Edi menggantungkan satu-satunya sumber pendapatan dari usahanya. Sayang, baru setahun berhenti bekerja, usaha Edi bangkrut. Harga kertas yang terus membubung tinggi menjadi penyebabnya. Untuk pengusaha kecil sekelas Edi, ia tidak bisa menekan harga kertas lantaran tidak bisa membeli dengan jumlah banyak karena keterbatasan modal. Akhirnya, banyak pelanggan memilih untuk mencetak ke tempat lain yang harganya lebih murah.
Beberapa bulan menganggur, Edi memutuskan untuk memulai usahanya lagi. Namun, lagi-lagi Edi kurang bisa bersaing harga dengan percetakan yang lebih besar. Harapannya pun putus untuk fokus di usaha percetakan kertas. Edi akhirnya memilih peluang di produk percetakan lainnya. Ia lalu belajar membuat neon box. Saat itu, pengusaha di bidang ini masih sedikit. Lagi-lagi, keahliannya didapat secara otodidak. Ia hanya belajar membuat dari panduan di internet.
Usahanya akhirnya berbuah manis. Banyak orderan yang datang. Apalagi, Edi memasarkan produknya melalui internet. Ia memuat blog, medsos, dan website yang mengenalkan produk-produk hasil karyanya. “Kebutuhannya memang tinggi. Sementara pembuatnya masih sedikit. Jadi saya fokus ke neon box. Pemasarannya juga melalui internet sehingga bisa lebih luas,” terangnya.
Edi pun kembali mendapat tantangan. Lagi-lagi, pembuat neon box terus bermunculan dan harga yang ditawarkan jauh dari pasaran. Namun, Edi sudah belajar dari kesalahan masa lalu. Ia lalu mengembangkan produk usahanya. Selama dua tahun terakhir, Edi lalu menggeluti pencetakan papan reklame, rambu-rambu serta huruf timbul. Hasilnya sungguh di luar dugaan. Banyak pesanan mengalir dari berbagai perusahaan besar. Beberapa hotel berbintang di Palembang, perusahaan minyak dan konstruksi menjadi langganannya. Harga yang ditawarkannya sangat kompetitif. Bahkan, diklaimnya 30 persen lebih murah dari pengusaha kebanyakan.
Usahanya kebanjiran order. Tak hanya dalam Kota Palembang, juga di luar kota seperti, Prabumulih, Lubuklinggau, Sekayu, Baturaja, Tangerang, dan Jakarta. Kunci keberhasilan pemasaran melalui media internet. Melalui blog, website, serta medsos perusahaan yang dibuatnya.

“Kebanyakan pesanan datang melalui website kami. Makanya, saat ini kami sedang membuat website baru yang berisi detail produk kami. Saya juga mempekerjakan beberapa marketing untuk mengenalkan produk kami ke perusahaan yang ada di Palembang,” ucapnya.
Kesuksesan usahanya berdampak terhadap lingkungan di sekitarnya. Karyawan yang dipekerjakan Edi berasal dari lingkungan rumahnya. Mereka rata-rata pemuda putus sekolah serta mantan pegawai yang dipecat dari tempat kerjanya. Edi mengajari mereka secara telaten hingga akhirnya mampu menguasai keahlian pembuatan reklame. “Mereka rata-rata warga sini. Saya didik dan saya ajari sampai mereka bisa. Daripada nongkrong tidak jelas. Jadi saya arahkan untuk bekerja disini,” terangnya.
Dari usahanya juga, Edi berhasil membeli rumah serta mobil untuk keluarga kecilnya. Bagi Edi, dukungan dari keluarga sangat penting hingga dirinya bisa memimpin perusahaan yang memiliki omzet per bulannya hingga ratusan juta rupiah. “Keluarga tentu diatas segalanya. Apalagi mereka sangat mendukung usaha saya ini,” pungkasnya. (kos/ce3)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!