Giliran Menteri Pertahanan AS Mundur

James "Jim" Mattis alias Mad Dog berbicara dihadapan media. Foto: Reuters.

WASHINGTON – James “Jim” Mattis alias Mad Dog tidak mampu lagi bertahan dalam kabinet Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Kamis (20/12) tokoh 68 tahun itu melayangkan surat pengunduran diri. Dia bakal resmi meletakkan jabatan menteri pertahanan pada 28 Februari.

Secara tertulis, Mattis menyebut perbedaan visi dengan Trump sebagai penyebab utama pengunduran dirinya. “Anda berhak punya menteri pertahanan yang visinya lebih sejalan dengan Anda. Karena itu, mundur adalah langkah yang paling tepat bagi saya,” terang mantan petinggi Korps Marinir AS tersebut seperti dilansir CNN.

Melalui Twitter, Trump mengaku sudah menerima surat pengunduran diri Mattis. Dia juga memberikan lampu hijau kepada veteran Perang Afghanistan dan Perang Iraq itu untuk meletakkan jabatan.

“Selama dua tahun menjabat, dia sudah memberikan banyak bantuan kepada saya,” cuit suami Melania itu lewat akun Twitter pribadinya.

Sebenarnya, pengunduran diri Mattis tersebut tidak mengejutkan. Kendati di awal pengangkatannya sebagai petinggi Pentagon dia kerap panen pujian dari Trump, belakangan hubungan mereka renggang.

Mattis dan Trump sering berselisih paham terkait kebijakan keamanan AS. Mulai penerapan kembali teknik interogasi ekstrem waterboarding sampai penarikan pasukan AS dari Yaman.

Berkat Mattis pula, AS batal menerapkan kembali waterboarding. Keberanian Si Anjing Gila mengkritik dan menentang Trump itu sempat menerbitkan harapan publik terhadap pemerintahan sang taipan. Apalagi, saat itu ada Rex Tillerson dan John Kelly yang vokal seperti Mattis.

Tahun lalu senator Bob Corker menyebut Mattis, Kelly, dan Tillerson sebagai trio petinggi militer pencegah kehancuran AS di tangan Trump. Namun, ayah Ivanka itu ternyata bukan sosok pemimpin yang bisa dinasihati. Tahun ini trio kritikus Trump tersebut mundur dari kabinet.

“Ini sangat menakutkan. Bagi kami, Mattis adalah tumpuan harapan di tengah pemerintahan Trump yang kacau,” ujar Wakil Ketua Komite Intelijen Senat Mark Warner kepada Associated Press.

Menanggapi pengunduran diri Mattis, senator Lindsey Graham geram. Kali ini politikus senior Partai Republik itu tidak membela Trump. Dia menganggap mundurnya Mattis sebagai sinyal kuat bahwa penarikan pasukan dari Syria adalah keputusan terburuk.

“Saya tidak bisa menalar keputusan ini. Yang saya lihat hanyalah seorang presiden yang sedang frustrasi,” ungkap Graham.

Namun, Trump belum berhenti memantik kontroversi. Selain menarik pasukan dari Syria, dia berencana mengurangi kekuatan militer AS di Afghanistan.

Kini Pentagon sedang bersiap memulangkan sekitar 7 ribu tentara dari negara yang dipimpin Presiden Ashraf Ghani tersebut. AS memiliki 14 ribu personel militer di Afghanistan (bil/c10/hep)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!