Ini Dampak Larangan Truk Batu Bara Melintas

Sopir truk batu bara yang menggelar rapat di Lahat, Rabu (7/11). foto: agustriawan sumeks.co.id

LAHAT – Ribuan sopir angkutan batu bara terancam menganggur akibat pemberlakuan Peraturan Gubemur Nomor 74 Tahun 2018 tentang Pencabutan Peraturan Gubemur Nomor 23 Tahun 2012 tentang Tara Cara Pengangkutan Batubara Melalui Jalan Umum.

Lantaran angkutan batubara jenis truk tersebut tidak bisa lewat. Sementara berlakunya kebijakan tersebut dimulai Kamis (8/11), sehingga membuat para transportir dan vendor angkutan batubara resah.

Rabu (7/11) di Rumah Makan Merapi Indah, Kecamatan Merapi Barat, sekitar 50 transportir dan vendor angkutan batubara berasal dari empat kabupaten yakni PALI, Prabumulih, Muara Enim, dan Lahat menggelar rapat terkait kebijakan tersebut.

Ketua Persatuan Angkutan Batu Bara Sumsel, Igus Tatoli melalui Ketua Harian Doni menegaskan bahwa rapat diadakan lantaran keresahan dari para transportir dan vendor angkutan batubara. Sebagian besar persatuan ini hanya memiliki truk kecil. Mereka menganggap bahwa kebijakan tersebut sangat tidak adil bagi mereka. Karena membuat mereka tak bisa lagi mengangkut batu bara.

“Yang kami miliki mobil truk dek. Sedangkan melalui jalur khusus tersebut harus tronton, jadi kami tidak bisa lewat,” kata Doni mewakili rekan- rekannya.

Jika kebijakan tersebut berlaku berarti ada sekitar 1.500 sopir angkutan batu bara terancam menganggur. “Kalau menganggur dek, kami dan para sopir harus apa. Kan tahu sendiri pengangguran itu bisa memicu tingkat kriminalitas,” ucapnya. (gti)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!