Korban Pemerkosaan Malah Dipenjara

Imelda Cortez (tengah) ditemani kerabatnya setelah dia dibebaskan. Foto: MARVIN RECINOS / AFP

JIQUILISCO – Delapan belas bulan mendekam di penjara membuat Imelda Cortez tidak bisa menahan haru saat bisa kembali menghirup udara bebas Senin (17/12).

Korban pemerkosaan itu jadi pesakitan. Dia dijebloskan ke bui karena dianggap sengaja menggugurkan bayinya. Di El Salvador, aborsi dilarang keras.

Cortez terdiam. Dia menahan tangis. Tapi, air mata membasahi pipi. Perempuan 20 tahun tersebut bahagia. Dia akhirnya meninggalkan tahanan. Keluarga dan sekitar 200 orang menyambutnya di halaman pengadilan. Pemandangan itu membuat Cortez larut dalam emosi. Dia bahagia.

“Si se pudo,” seru orang-orang yang menyambut Cortez. Kalimat yang artinya “ya dia bisa” itu berkali-kali menggema. Mereka bersyukur karena hakim akhirnya memberikan vonis yang adil. Adil bagi Cortez dan keluarganya.

“Keputusan hakim ketua adalah preseden penting dalam memperjuangkan hak-hak perempuan,” ujar Bertha de Leon, salah seorang pengacara yang membela Cortez, seperti dikutip Al Jazeera, Selasa (18/12).

Cortez menyita perhatian dunia saat kisahnya dipublikasikan media nasional dan internasional. Ketika usianya baru 12 tahun, penduduk Jiquilisco, El Salvador, tersebut menjadi korban kejahatan ayah tiri. Dia dicabuli. Bukan hanya itu. Cortez juga ditiduri secara paksa.

Tindakan keji ayah tiri yang usianya 70 tahun itu berlanjut sampai Cortez berusia 18 tahun. Pada 2016 dia hamil. Karena sebelumnya tidak pernah mengandung, Cortez pun tidak paham dengan perubahan dirinya. Dia tidak sadar jika dia berbadan dua. Dia pun tetap melakukan aktivitas seperti biasa.

Pada April 2017 Cortez melahirkan. Namun, persalinan itu berlangsung terlalu cepat. Bayinya prematur. Cortez melahirkan di toilet.

Cortez baru sadar bahwa dia melahirkan setelah melihat bayi meluncur dari jalan lahir. Dia kaget. Jabang bayi itu masuk ke lubang toilet dan langsung ke septic tank. Kejadian tersebut berlangsung begitu cepat. Cortez tidak sempat menyelamatkan buah hatinya. Sebab, kesadarannya menurun gara-gara perdarahan hebat. Cortez terpaksa dilarikan ke rumah sakit.

Kepada dokter, Cortez mengatakan bahwa ada sesuatu yang keluar dari vaginanya sebelum dia pingsan. Dokter pun lapor polisi. Dia menduga Cortez mengaborsi bayinya. Aparat pun langsung menangkap Cortez.

El Salvador menerapkan aturan superketat soal aborsi. Tidak sekadar melarang, pemerintah pun memaksa paramedis proaktif mencegah aborsi. Apabila tidak lapor polisi saat mengetahui kasus aborsi, dokter akan dijatuhi hukum berat.

Dalam kasus Cortez, sebagian besar masyarakat menganggap perempuan itu korban. Dia tidak berniat menggugurkan bayinya. Apalagi, bayi perempuan tersebut masih hidup sampai sekarang. Dia ditemukan di dalam septic tank bercampur lumpur dan tinja. Kini dia dirawat ibunda Cortez.

Saat Cortez dirawat di rumah sakit, ayah tiri sempat menengok. Namun, dia hanya hendak mengancam. Ancaman itu didengar pasien lain yang lantas lapor polisi. Si ayah tiri langsung ditangkap. Hasil uji DNA membuktikan bahwa memang dia ayah bayi Cortez. Kini pria bejat tersebut sedang menjalani proses hukum. (sha/c10/hep)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!