Pandai Menempatkan Sesal

Izzah Zen Syukri

Oleh : Izzah Zen Syukri*

Di zaman Nabi Musa Alaihis Salam ada seorang yang sangat gemar berbuat munkar. Beberapa orang telah menasihatinya, tetapi dia tetap berbuat maksiat. Suatu hari, Allah mengabarkan kepada Nabi Musa tentang kisah orang tersebut. Allah memerintahkan Nabi Musa untuk mengusir orang itu keluar dari kampung.
Orang tersebut hidup di kampung yang baru dengan perilaku masih seperti yang dulu. Allah kembali mengabarkan hal ini kepada Nabi Musa. Allah menyuruh Nabinya ini untuk membuang orang tersebut ke padang pasir yang sangat tandus. Tidak ada kehidupan di situ. Tak ada pepohonan yang mau tumbuh di tempat itu. Bahkan, serangga pun enggan berkeliaran di tempat tandus tersebut.
Dari masa ke masa lelaki ini kian menderita hingga ia pun jatuh sakit. Dalam hati ia merintih, “Ya Allah, andai ada ibuku, tentu ia akan mendoakan kesembuhanku dan mengusap tubuhku yang sakit ini. Ya Allah, andai ada ayahku, tentu dia akan berdoa untuk kesembuhanku dan menolongku dari derita ini.”
Ia terus merintih dan berdoa, “Ya Allah, andai ada istriku, dia pasti menangis dan kasihan padaku. Andai ada anakku, dia pasti sedih dan mendoakan kesembuhan ayahnya.”
Hatinya pun penuh sesal. Ia berdoa dengan sungguh-sungguh sambil sesenggukan menangis, “Ya Allah jika orang-orang yang dekat denganku saja kasihan melihatku, pasti Engkau juga memiliki rahmat yang lebih besar dari itu. Aku sungguh mengharap rahmat-Mu, Ya Allah”.
Tiba-tiba, Allah utus para bidadari yang menyerupai ibunya, istrinya, dan anaknya. Allah utus pula malaikat yang menyerupai ayahnya. Mereka semua merasa kasihan terhadap orang ini. Tak lama kemudian orang ini menghembuskan nafas terakhir. Lalu, Allah kembali memanggil Nabi Musa, “Wahai Musa, uruslah jenazah wali-Ku dengan baik. Ia ada di suatu padang yang sangat tandus”.
Ketika menjumpai jenazah yang dimaksud, Nabi Musa sangat terkejut, “Ya Allah, bukankah ini orang yang Engkau perintahkan untuk diusir itu? Lalu kenapa Engkau sebut ia sebagai wali-Mu?”
Allah pun berkata bahwa lelaki itu sangat menyesal. Ia mengharap rahmat Allah. “Bagaimana Aku tidak memberikan kasih sayang, sementara makhluk yang lain pun mengasihi dan memohon ampunan untuknya.”
Saudara-saudaraku yang budiman, kita pasti tidak lepas dari dosa dan alpa. Terkadang kita terlena dengan perbuatan yang tidak pantas, bahkan cenderung haram. Jasmani kita, rohani kita, hati kita terkadang berlumur noda dan salah. Padahal umur kita tidak lama. Dunia pun akan sirna. Ada kehidupan yang lebih baik yang menanti kita, sesuai dengan firman Allah walal aakhirotu khoirun laka minal uula ‘Dan kehidupan akhirat itu jauh lebih baik bagimu daripada dunia”.
Jangan biarkan hati kita tertutup, sehingga mencintai kesenangan yang sifatnya sesaat. Harta, perhiasan, kendaraan, rumah, pakaian, dan jabatan adalah godaan yang terkadang berat untuk ditinggalkan. Padahal, itu semua akan mengucapkan selamat tinggal manakala badan kita telah berkain kafan dan tanah telah menutupi tubuh kita yang dulu piawai mengumpulkan rupiah demi rupiah.
Sekecil-kecil dosa kita jika ditumpuk akan menggunung jua. Sebesar-besar kesalahan kita, masih besar rahmat Allah yang terus-menerus dilimpahkan-Nya kepada kita. Semoga Allah senantiasa menuntun tangan kita untuk senantiasa berjalan di jalan yang lurus sesuai dengan janji yang senantiasa kita ucapkan dalam tiap sholat Inna sholatii wanusuki wamahyaaya wamamaati lillahi Robbil Aalamiin ‘Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah (buan untuk yang lain’. Semoga kita pun mendapatkan apa yang senantiasa kita pintakan dalam tiap rekaat kita, Ihdinash shiroothol mustaqiim ‘Tunjuki jalan yang lurus (Ya Allah)’. (*)

Baca Juga :  Memaknai Idulfitri dan Langkah Melestarikan Fitrah

*Khodimut Thullab di Ma’had Muqimus Sunnah Palembang

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!