Rusia-Iran Ancam Penyerang Syria

Anggota pasukan SDF melihat kondisi kerusakan pesawat di pangkalan militer Tabqa. Foto: REUTERS/RODI SAID

LUCCA – Amerika Serikat (AS) dan negara-negara sekutu Syria saling ancam. Kemarin (10/4) Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson mengaku siap melawan mereka yang melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan. Hal tersebut dia ungkapkan jelang pertemuan antar menteri luar negeri negara-negara anggota G7 di Italia. Sehari sebelumnya, negara-negara sekutu Syria lebih dulu mengeluarkan ancaman.

“Kami mendedikasikan kembali diri kami untuk membuat siapa pun yang melakukan kejahatan terhadap orang tidak bersalah di belahan dunia mana pun bertanggung jawab,” ujarnya di hadapan para jurnalis saat mengenang pembantaian Nazi Jerman 1944 di Sant’Anna, Tazzema, Italia.

Sehari sebelumnya, Tillerson juga menuduh Rusia tidak berbuat apa-apa untuk mencegah serangan senjata kimia yang dilakukan sekutunya. AS berharap Rusia mengambil langkah yang lebih tegas dan memikirkan ulang kedekatannya dengan Syria. Padahal, pada 2013, Rusia menjamin senjata kimia pemerintah Syria akan dimusnahkan. “Masalah itu menjadi bagian dari diskusi ketika saya berkunjung ke Moskow minggu depan,” tegasnya.

Di hari yang sama, Menteri Pertahanan Inggris Michael Fallon mengkritik kedekatan Rusia dengan rezim Bashar Al Assad. Menurut dia, kejahatan perang yang dilakukan pemerintah Syria terjadi atas sepengetahuan Rusia. “Secara tidak langsung, Rusia bertanggung jawab atas kematian semua penduduk sipil minggu lalu (di Khan Seikhun, red),” ujarnya.

Baca Juga :  Ulama Syiah Menang Pemilu, Gudang Surat Suara Dibakar

Menurut Fallon, jika Rusia tidak ingin dituding ikut bertanggung jawab atas serangan-serangan Damaskus, Presiden Rusia Vladimir Putin harus melenyapkan gudang-gudang senjata kimia milik Assad dan benar-benar terlibat dalam proses perdamaian Syria yang digagas PBB. Inggris memang mendukung serangan 59 misil Tomahawk AS ke Syria pekan lalu. Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson bahkan membatalkan kunjungannya ke Moskow yang seharusnya berlangsung kemarin.

Secara terpisah, Rusia, Iran, dan kelompok militan Hizbullah mengeluarkan pernyataan bersama pada Minggu (9/4). Mereka menyatakan bahwa serangan AS terhadap Syria sudah melebihi batas. Mereka bakal membalas siapa saja yang melakukan agresi terhadap Syria. ‘AS tahu betul kemampuan kami untuk melakukan reaksi (pembalasan, red),” bunyi pernyataan bersama yang dipublikasikan di website harian Syria, Al-Watan.

Tiga sekutu Syria itu juga menuding bahwa AS bertindak sebelum melakukan penyelidikan terhadap serangan senjata kimia di Kota Khan Sheikhun, Provinsi Idlib. Sebab, belum ada kepastian bahwa Rusia ataupun rezim Assad adalah pelaku serangan yang menewaskan 85 orang pada Selasa pagi (4/4) tersebut. AS juga dituding melakukan serangan ke pangkalan udara Shayrat, Provinsi Homs, tanpa menunggu persetujuan PBB.

“Kami sebagai sekutu Syria akan meningkatkan dukungan militer terhadap Syria dan membantu penduduknya dalam berbagai cara,” ujar para sekutu Negeri Syam melalui pernyataan bersama itu.

Baca Juga :  Keunikan Piramida Giza dari Jerami di Rusia

Presiden Iran Hassan Rouhani kemarin juga meminta AS tidak menyerang Syria lagi. Sebab, mengulangi serangan serupa bisa berakibat fatal bagi wilayah Timur Tengah.

Serangan 59 rudal penjelajah Tomahawk AS ke pangkalan udara Syria yang diduga sebagai gudang senjata kimia tersebut memang mendadak dan mengagetkan banyak pihak. Bukan hanya Syria dan sekutunya, tapi juga berbagai negara lain yang selama ini menjadi sekutu Washington. Pasalnya, sejak awal kampanye, Presiden AS Donald Trump kerap mengkritik kebijakan atas perang Syria. Dia juga cenderung menghindari topik tentang perang sipil yang memasuki tahun ketujuh itu.

Suami Melania tersebut bahkan dekat dan kerap memuji Putin. Namun, setelah serangan Tomahawk, hubungan keduanya renggang. AS menuding pangkalan udara yang mereka serang adalah gudang senjata kimia Syria. Namun, tentu saja tidak ada bukti nyata terkait dengan tudingan itu.

Kini, setelah serangan AS, bukan hanya Kongres yang mempertanyakan langkah selanjutnya yang diambil Gedung Putih. Negara-negara lain menyatakan hal serupa. Mereka ingin tahu seperti apa sikap AS saat ini terhadap konflik di Syria. Negara-negara di Eropa ingin AS mendesak Rusia untuk menjauhi Syria. Mereka juga ingin Washington mendukung penuh solusi politik untuk perpindahan tampuk kekuasaan di Damaskus.

Baca Juga :  Pak Guru Menarik Jilbab Siswi Belia Hingga Terluka

“Amerika menyatakan bahwa mereka setuju. Tapi, di balik layar tidak ada yang mereka tunjukkan,” ujar salah seorang diplomat senior negara Eropa pada kantor berita Reuters.

Italia, Jerman, Prancis, dan Inggris mengundang menteri luar negeri Turki, Arab Saudi, Jordania, Uni Emirat Arab (UEA), dan Qatar untuk datang serta duduk bersama menteri luar negeri anggota G7. Pertemuan rencananya dilangsungkan hari ini untuk membahas konflik di Syria. Seluruh negara itu menentang Assad berkuasa. Mereka juga akan menanyai Tillerson mengenai langkah selanjutnya yang diambil AS.

Pembahasan masalah Syria memang bakal mendominasi pertemuan para menteri G7 tersebut. Selebihnya, mereka membahas konflik di Libya, ancaman Korea Utara (Korut), perubahan iklim, perdagangan, dan beberapa masalah lainnya. (Reuters/Aljazeera/CNN/sha/c22/any)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!