Tujuh Stasiun Belum Selesai

MENINJAU: Menteri BUMN Rini M Soemarno saat meninjau progres pembangunan LRT di Jakabaring, kemarin (4/8). Foto: Budiman/Sumatera Ekspres

PALEMBANG – Menteri BUMN Rini M Soemarno melakukan kunjangan kerja (kuker) ke Sumsel, kemarin (4/8). Ada empat proyek besar dari perusahaan plat merah milik negara yang dikunjungi. Pertama, meninjau lokasi peresmian Pabrik Pusri II-B, Proyek Light Rail Transit (LRT) di zona V, proyek tol Palindra, dan meninjau Pabrik Gula Cinta Manis Tanjung Raja.
Di zona V LRT, Rini mengaku progres pembangunan LRT cukup baik. Pasalnya, dari total 13 stasiun, baru enam stasiun yang telah beres dan pembangunannya cepat. Sedangkan tujuh stasiun sisanya masih terkendala karena terkendala pada lahan yang belum bebas. ”Memang ada beberapa isu mengenai stasiun yang berhubungan dengan lahan yang belum bebas,” kata Menteri Negara BUMN, Rini M Soemarno saat meninjau lokasi stasiun Jakabaring, kemarin (4/8).
Menurutnya, terganjalnya pembebasan lahan membuat pembangunan tujuh stasiun terhambat dan belum bisa dikonsentrasikan sepenuhnya. Tapi enam stasiun lainnya, terutama dari Bandara SMB II ke Jakabaring sesuai progres. ”Kami harapkan pengerjaanya LRT lancar,” katanya.
Dengan adanya enam stasiun terlebih dahulu dinilai sudah baik. Tetapi untuk melayani warga Palembang sebagai pengguna transportasi massal, seharusnya 13 stasiun sudah selesai secara keseluruhan. ”Makanya, untuk mengejar waktu, operasional stasiun harus kelar pada awal Maret 2018 sekaligus melakukan full testing run sampai Juni,” tegasnya.
Selain stasiun, sambung dia, diharapkan progres pembangunan LRT di akhir tahun sudah 80 persen. Karena itu, dirinya minta secepatnya menyelesaikan steel box girder agar bisa dipasang. ”Kami berharap pemasangan girder semuanya selesai pada September ini, termasuk di tengah Sungai Musi,” sebutnya.
Disamping mengejar fisik, kata dia, sarana dan prasarana LRT terus digenjot. Seperti train set (gerbong) LRT. Saat ini, gerbong tengah dikerjakan oleh PT INKA bekerjasama dengan perusahaan asing untuk menyelesaikan perakitan kereta, ”Kalau tarif masih dibahas dengan sejumlah pihak,” sebutnya sambil tersenyum.
Sementara itu, Direktur PT Waskita Karya, Bambang Rianto menambahkan, secara umum pembangunan LRT sesuai target, terutama untuk pembangunan fisik. Karenanya, selain mengejar fisik LRT, pihaknya juga merampungkan Depo, stasiun dan fasilitas lainnya. Depo harus selesai tepat waktu, yakni akhir tahun. Sebab Depo adalah tempat pengaturan train set berjalan.
Meski diakuinya, masalah utama pembangunan LRT adalah pembebasan lahan. ”Sudah disampaikan kepada ibu Menteri, lahan untuk stasiun itu yang masih kendala dan tengah dikoordinasikan. Intinya sampai akhir tahun sudah 80 persen dan secepatnya di lakukan tes jalur,” ujar dia.
Pimpinan Proyek LRT PT Waskita Karya di Palembang, Mashudi Jauhari menambahkan, para pekerjaan LRT telah menerapkan standar operasional prosedur (SOP) dalam bekerja di lapangan. Namun diakuinya, satu pekan ini terjadi diluar perkiraan. Mulai dari jatuhnya crane menimpa rumah warga hingga tewasnya pekerja LRT. ”Ini tentu di luar perkiraan. Makanya, kami akan meningkatkan pengawasan,” ucapnya.
Apalagi, kata dia, pengerjaan LRT masih terdapat titik krusial, terutama di titik persimpangan. Seperti Simpang Tanjung Api-api (TAA) dan Simpang Polda, simpang Palembang Icon, simpang Charitas. Pada titik ini selain posisi tinggi juga lokasinya sempit. ”Saat pengerjaan harus clear aktifitas warga, termasuk pekerja yang harus extra hati-hati dengan memperhatikan berbagai perlengkapan kerja,” tegasnya.
Terkait ganti rugi dua rumah yang terkena imbas jatuhnya girder, ungkap Mashudi, pihaknya akan mengganti rugi bangunan dengan membangun kembali, tapi tidak diganti berupa uang. Korban akan diberikan kontrakan selama ganti rugi berlangsung. ”Korban masih mengungsi di rumah saudaranya. Mereka memang meminta dicarikan kontrakan dan itu sudah kita lakukan,” pungkasnya.
Setelah melakukan kunjungan LRT, Menteri Rini langsung meninjau pembangunan jalan tol Palembang-Indralaya (Palindra). Menurutnya, progres pembangunan tol Palindra sudah sesuai target. Memang ada beberapa lahan yang belum bebas sehingga menghambat pembangunan. ”Tadi sudah kita cek. Saya harapkan per Agustus 2017 ini setidaknya ruas jalan tersambung, walau masih dalam proses vakum dan belum teraspal. Karena kita mengejar target penyelesaian Desember tahun ini dan juga dibuka nantinya,” terang Rini.
Direktur PT Hutama Karya, I Gusti Ngurah Putra menambahkan, progres kontruksi pembangunan tol Palindra sudah 59,39 persen. Untuk pembangunan akses Palembang-Pemulutan paling tinggi yakni 96,15 persen per Agustus 2017, akses Pemulutan-Desa Rambutan 9,04 persen, dan Desa Rambutan-Indralaya mencapai 76,1 persen. ”Kami targetkan tahun tol ini sudah selesai,” kata dia. (yunsid)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!