Ubah Cibiran Jadi Semangat, Jual Karya dengan Niat Membantu

BIKIN KAKI PALSU : Azhari sedang membikin kaki palsu di kediaman rumahnya. Kaki palsu ini untuk para kaum disabilitas. Foto : KRIS SAMIAJI/SUMEKS

Lahir dengan segala keterbatasan fisik (tangan tidak normal) tak membuat Azhari (70) sedih atau berputus asa menjalani hidup. Azhari. Justru kini dia menjadi orang yang sangat penting dalam membatu sesama difabel sebagai tukang pembuat tangan dan kaki palsu.

———————
RENDI KURNIAWAN – Palembang
———————

TAHUN 2018, tepatnya Selasa (31/10), Kementerian Pemuda dan Olahraga melalui Dinas Pemuda Dan Olahraga (Dispora) Provinsi Sumsel memberikan penghargaan pada tokoh-tokoh atlet penyandang disabilitas. Dari sekian atlet tokoh yang mendapat penghargaan, satu orang kakek mencuri perhatian.
Dialah Azhari, mantan pensiunan pegawai negeri sipil (PNS) dan juga atlet difabel yang kini menjadi tokoh inspiratif sebagai pembuat tangan dan kaki palsu. “Ahamdulillah, dipercaya mendapat penghargaan. Bersyukur ini sudah yang ke sekian kalinya,” sapa ramah Azhari, mengawali pembicaraan kepada Sumatera Ekspres, di aula Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Fisik (BRSPDF) Budi Perkasa.
Sejak dahulu, Azhari memang sudah cukup dikenal banyak orang, khususnya atlet disabilitas Palembang. Sosoknya ramah, dan pekerja keras selalu melekat di dirinya, meskipun dengan segala kekurangan yang dimiliki, dia sangat tidak mau tergantung dengan orang lain.
“Saya harus buktikan kalau kekurangan bukan segalanya. Orang yang kurang (keterbatasan) sebenarnya juga bisa berbuat dan bekerja. Kadang saya sedih kalau lihat ada yang seperti saya, atau yang normal justru meminta-minta (pengemis),” ungkap warga Jl Jompo No 665, Km 5 itu.
“Memang sih, kalau kita (difabel) yang seperti ini. Namanya diejek, dilihat aneh, itu sudah biasa. Makanan sehari-hari, tapi ini juga yang justru melecut saya membuktikan kalau sebenarnya kami ini sama,” terangnya.
Semangat yang terus diluapkanya, sepanjang dia menggeluti pekerjaan. Mulai pertama dia merintis kerja dari, tukang parkir, menugumpulkan barang bekas, menjadi atlet profesional cabor atletik, diangkat menjadi pegawai negeri sipil, hingga menekuni profesi pembuat kaki dan tangan palsu.
“Membuat alat bantu seperti kaki palsu, tangan palsu, dan kursi roda sudah saya geluti lebih dari dua puluh tahun ini. Bahkan ketiga anak saya, menekuni bidang yang sama. Mereka bekerja dan bersekolah sebagai ahli fisioterapi yang berkaitan dengan rehabilitasi penyandang cacat juga,” ujar ayah tujuh anak.
“Mungkin orang meragukan kemampuan saya, apalagi dengan keterbatasan fisik yang saya miliki pada tangan saya. Tapi saya pernah jadi juara I membuat kaki palsu pada lomba yang diadakan Departemen Tenaga Kerja tahun 2007 di Jakarta. Padahal ketika itu saya bersaing dengan orang-orang normal,” ujar mantan atlet spesialis sprinter, lompat jauh, lempar lembing dan lempar cakram ini.
Cacat fisik sejak lahir pantang untuk membuat Azhari menyerah. Buktinya, keseharian pensiunan Departemen Sosial ini senantiasa sibuk. Setiap bulan Azhari menerima pesanan minimal lima buah alat bantu penyandang cacat. Singatnya, kalau ditotal, 60 alat bisa dibuatnya dalam satu tahun. Pemesannya pun bukan cuma dari likup lokal, tapi dari seluruh pelosok Indonesia.
Ilmu membuat tangan dan kaki palsu untuk penderita cacat diperoleh Azhari secara otodidak ketika menjadi pegawai di panti rehabilitasi cacat di Kota Solo, Jawa Tengah, sejak tahun 1962. Bakat Azhari sebagai pembuat tangan dan kaki palsu diketahui pimpinan panti rehabilitasi saat Azhari membuat sebuah tangan palsu hasil desain sendiri.
”Waktu itu saya mendapat sebuah tangan palsu, tetapi menurut saya tangan itu tidak praktis. Lalu saya merancang sendiri tangan palsu dari logam yang lebih sesuai untuk kondisi tangan saya,” kata ayah dari tujuh anak itu.
Karena kemampuannya, Azhari ditawari pindah ke panti rehabilitasi untuk wilayah Indonesia barat di Kota Palembang. Kemampuan Azhari terus berkembang tidak hanya membuat tangan palsu, tetapi juga mampu membuat kaki palsu dan korset khusus penderita patah tulang belakang.
Azhari membutuhkan waktu dua sampai tiga hari untuk membuat kaki palsu sampai bawah lutut, sedangkan untuk membuat kaki palsu sampai di atas lutut perlu waktu seminggu. Untuk membuat tangan palsu, ia perlu waktu sampai dua minggu karena harus diukir supaya bentuknya mirip tangan asli.
“Mungkin karena alat-alat yang saya buat tergolong murah. Dan bila ada penyandang cacat yang tidak mampu, saya hanya minta ganti biaya material, jadi memang saya buat alat ini niat utamanya untuk bantu saja, ” tutur bapak tujuh anak itu.
Sikap keja keras dan pantang menyerah ini juga ditanamkan Azhari kepada ketujuh putranya dan akhirnya berbuah. Saat ini dari tujuh putranya, enam orang sudah menyelesaikan pendidikan strata 1 dan satu orang lagi sedang menempuh pendidikan di jenjang perguruan tinggi.
“Pedidikan penting buat saya. Saya berusaha agar anak-anak saya bisa menyelesaikan pendidikan sampai ke jenjang perguruan tinggi. Jangan seperti saya yang hanya tamat SMA,” tambah Azhari. (*/fad/ce1)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!