AS Ujicoba Minuteman III, Tiongkok Minta Pemimpin Kepala Dingin

FILE PHOTO of a US ICBM test/independent.co.ug

MILITER Amerika Serikat yang sudah menempatkan kapal induknya Semenanjung Korea menguji coba Minuteman III di tengah ketegangan dengan Korea Utara, Rabu (3/4).

Uji coba rudal balistik lintas benua alias intercontinental ballistic missile (ICBM) itu adalah agenda rutin. Namun, kali ini uji coba tersebut menjadi sorotan dunia.

”Itu uji coba rutin. Kami tidak bermaksud unjuk gigi atau menyaingi kekuatan militer Korea Utara (Korut),” tegas Joe Thomas, juru bicara Global Strike Command, kepada media.

Dia menyatakan, AS melakukan uji coba ICBM empat kali tiap tahun. Sebelumnya, perhatian masyarakat global terhadap uji coba rutin ICBM Negeri Paman Sam tidak pernah sebesar sekarang.

Kemarin (3/5) ICBM yang melesat sekitar 6.700 kilometer dari titik luncurnya di Negara Bagian California itu jatuh di dekat pulau karang Kepulauan Marshall di Samudra Pasifik.

Di pulau tersebut, AS memiliki fasilitas militer yang memang khusus menjadi lokasi uji coba rudal.

Thomas mengatakan, ICBM yang diujicobakan pada pagi, pukul 07.20 waktu setempat, itu tidak mengusung hulu ledak apa pun.

Seperti ICBM milik Korut, Minuteman III pun mampu mengusung hulu ledak nuklir. Namun, selama ini AS tidak pernah menguji coba ICBM lengkap dengan senjata. Apalagi senjata nuklir.
Thomas menegaskan, rudal balistik yang ditembakkan dari Pangkalan AU Vandenberg itu bukanlah ancaman untuk negara mana pun. Uji coba rutin tersebut hanyalah bagian dari latihan pertahanan keamanan AS.

Baca Juga :  Katanya Sih, Kondom Bikinan Jepang Ini Tertipis di Dunia

”Tujuan uji coba persenjataan militer seperti ICBM kali ini adalah mengetahui akurasi dan kemampuannya. Dengan demikian, kami mendapatkan data-data yang aktual untuk memperbaiki atau meningkatkan performanya,” kata Linda Frost, juru bicara komando AU AS di California.

Kemarin dia menunjukkan foto-foto uji coba ICBM kepada media. Dia mengungkapkan, uji coba berjalan sukses.

Sementara itu, Tiongkok yang bertetangga dengan Korut menyatakan keprihatinannya pada situasi Semenanjung Korea.

Kemarin Beijing mengimbau semua pihak yang terlibat untuk tenang dan tetap menggunakan kepala dingin. ”Tidak perlu saling memengaruhi dan memprovokasi.” Demikian imbauan Negeri Panda yang disebarluaskan ke media.

”Kehadiran pesawat pengebom di kawasan tersebut, disusul dengan latihan militer dua negara (AS-Korsel) dan respons Korut, membuat situasi di Semenanjung Korea kian tegang dan sensitif. Semua pihak harus bisa menurunkan tensi politik di sana dan kembali ke meja perundingan,” kata Jubir Kementerian Luar Negeri Tiongkok Geng Shuang, membacakan pernyataan resmi pemerintah.

Di sisi lain, Jepang justru sedang berupaya mengubah konstitusi cinta damainya dan berharap bisa terwujud pada 2020. Kemarin Perdana Menteri (PM) Shinzo Abe mengutarakan rencananya untuk mengamandemen konstitusi Jepang yang sudah berlaku 70 tahun.

Baca Juga :  Kelebihan Kapasitas, Maskapai Seret Penumpang

Dia bakal mengubah pasal 9 undang-undang dasar itu yang berisi pasifisme atau paham cinta damai Negeri Sakura.
Melalui pesan video, Abe menyatakan, pasal 9 akan dielaborasi lebih detail, terutama berkaitan dengan tugas SDF alias Self-Defense Forces (sebutan untuk militer Jepang).

”Dengan memaparkan segala hal yang bersangkutan dengan fungsi dan kewajiban SDF secara eksplisit, maka masyarakat tidak akan lagi bertanya-tanya apakah aktivitas SDF melanggar konstitusi,” ungkapnya.

Jepang yang selama ini hanya menerjunkan militer sebagai pasukan penjaga perdamaian PBB dan tidak pernah terlibat dalam perang apa pun setelah Perang Dunia II, tampaknya, akan segera aktif lagi di medan laga.

Pekan lalu Abe memerintah Izumo, kapal pengangkut helikopter tempur, untuk mengawal kapal logistik AS di Samudra Pasifik. Itu merupakan tugas militer pertama Izumo di luar latihan perang rutin. (AFP/Reuters/hep/c10/any)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!